Jelaskan Sejarah Gedung DPR, Bonnie Triyana: Jejak Sejarah Anti-Penindasan
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 24 Juli 2025 | 16:04 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Sejarawan sekaligus anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, mengungkap sejarah yang jarang diketahui publik tentang Gedung DPR/MPR RI di Jakarta.
Dalam sebuah forum diskusi publik, Bonnie menyatakan bahwa gedung berbentuk kura-kura ikonik tersebut pada awalnya tidak dirancang untuk kegiatan parlemen, melainkan untuk menyelenggarakan Conference of the New Emerging Forces (Conefo), sebuah konferensi global yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno untuk melawan dominasi imperialisme Barat.
“Tempat kita berada sekarang ini, sebetulnya bukan dirancang untuk parlemen. Gedung ini adalah simbol dari gagasan besar dunia ketiga, perlawanan terhadap kolonialisme, dan upaya menciptakan tata dunia baru,” ujar Bonnie dalam pidatonya.
Bonnie menekankan bahwa semangat Conefo tak bisa dilepaskan dari peristiwa penting dalam sejarah diplomasi Indonesia, yakni Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Konferensi tersebut mempertemukan para pemimpin dari negara-negara Asia dan Afrika yang sedang atau telah merdeka, sebagai bentuk solidaritas dan perjuangan bersama melawan kolonialisme dan imperialisme.
“Gerakan pembebasan dunia ketiga bukanlah slogan kosong. Ada pertukaran ide, solidaritas nyata, dan jejaring aktivis lintas negara yang dibangun bahkan sebelum Indonesia merdeka, khususnya melalui interaksi para pemikir nasionalis di Eropa pada awal abad ke-20,” jelasnya.
Bonnie juga mengangkat peran tokoh-tokoh nasionalis Indonesia yang kerap terlupakan, seperti Arnold Mononutu, Sam Ratulangi, hingga Bung Hatta, yang membangun jejaring internasional sejak masa studi di luar negeri.
“Mereka adalah para pemikir kosmopolitan yang menjalin relasi dengan aktivis kemerdekaan dari India, Vietnam, hingga Afrika,” katanya.
Gerakan ini turut melahirkan berbagai organisasi lintas profesi, seperti Persatuan Wartawan Asia Afrika, organisasi pengacara, dokter, hingga mahasiswa lintas benua.
Bonnie mencontohkan peran aktif Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Aljazair dari Prancis, termasuk menyediakan tempat tinggal bagi aktivis National Liberation Front di kawasan Serang, Banten. Bahkan, Indonesia juga berkontribusi dalam perjuangan Nelson Mandela dan ANC melawan apartheid di Afrika Selatan.
“Bung Karno menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia belum sempurna jika masih ada bangsa lain yang terjajah. Maka semangat anti-penindasan itu tidak pernah berhenti, melainkan terus diperluas hingga lahir gerakan Tricontinental tahun 1966,” ujarnya.
Conefo dirancang sebagai tandingan terhadap struktur global yang timpang, termasuk kritik tajam terhadap PBB yang dianggap hanya mewakili kepentingan negara-negara pemenang Perang Dunia II. Bung Karno bahkan sempat mengusulkan pemindahan markas PBB ke Jakarta, di gedung yang kini menjadi kantor Bawaslu.
“Spirit gedung DPR ini bukan hanya sebagai institusi parlemen, tetapi sebagai simbol dari perjuangan, kesetaraan, dan perlawanan terhadap dominasi dunia lama. Inilah memori kolektif yang hilang dan harus dikembalikan ke ruang publik,” tegas Bonnie.
Di akhir paparannya , Bonnie Triyana mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali mengenal sejarah dan memahami makna di balik bangunan-bangunan bersejarah.
“Kita sering tahu nama jalan, tapi tidak tahu siapa tokohnya. Kita tahu gedung DPR, tapi lupa untuk apa ia dibangun. Saatnya menghidupkan kembali ingatan sejarah kita,” tutupnya. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!