Jejak Doa di Jalan Panjang: Ziarah Wali Kab. Bandung, Merawat Syukur dan Meneladani Aulia
Perjalanan ziarah yang berlangsung dari 12 hingga 14 Desember 2025 itu dimulai menuju Cirebon, kota wali yang sarat sejarah. Di sana, rombongan menundukkan kepala di makam Sunan Gunung Djati, membiarkan doa-doa mengalir pelan, seiring langkah kaki yang menyusuri pelataran penuh khidmat.
Dari Cirebon, perjalanan berlanjut ke Demak, menziarahi makam para raja Mataram, lalu ke Kadilangu, tempat Sunan Kalijaga bersemayam. Setiap persinggahan seolah menjadi kelas terbuka tentang dakwah yang santun, budaya yang dirangkul, dan Islam yang tumbuh bersama masyarakat.
Kudus dan Yogyakarta menjadi tujuan berikutnya. Di kota-kota itu, para peserta kembali diingatkan bahwa Islam di Nusantara dibangun dengan hikmah, keteladanan, dan kesabaran panjang. Di dalam bus, cerita-cerita lama mengalir, diselingi tawa ringan, tasbih yang tak pernah lepas dari genggaman, dan doa yang lirih namun istiqamah.
Ketua Guru Ngaji Kabupaten Bandung, H. Uya Mulyana, menyampaikan pandangan senada. Ia menilai prakarsa Bupati Dadang Supriatna sebagai wujud rasa syukur yang nyata. “Ini bukan sekadar wisata, tapi ajakan untuk meneladani jasa para wali yang telah membawa hidayah iman Islam kepada kita semua,” ujarnya.
Baginya, ziarah ini juga menjadi penguat silaturahmi antar unsur masyarakat. Para guru ngaji, tokoh agama, dan pemangku kepentingan duduk sejajar, berbagi cerita dan harapan tentang masa depan umat dan daerah.
Minggu siang, rombongan kembali ke Kabupaten Bandung dengan selamat. Satu per satu peserta pulang ke rumah masing-masing, membawa oleh-oleh yang tak kasat mata: ketenangan, rasa syukur yang diperbarui, dan tekad untuk meneladani para aulia—menjadi manusia yang bermanfaat, di zamannya sendiri.
@bambang melga suprayogi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!