Jejak Doa di Jalan Panjang: Ziarah Wali Kab. Bandung, Merawat Syukur dan Meneladani Aulia
VISI.NEWS | BANDUNG - Pagi itu, Kompleks Pemda Kabupaten Bandung tidak seperti biasanya. Deru mesin bus bercampur lantunan doa, saling bersahut dengan senyum para peserta yang membawa satu niat sama: bersyukur dan menapaktilasi jejak para wali. Sebanyak 325 peserta dilepas dalam agenda Wisata Ziarah Wali, sebuah tradisi tahunan yang kini telah memasuki tahun keempat sejak digagas Bupati Bandung, Dadang Supriatna, pada 2021 lalu.
Mereka yang berangkat bukan rombongan biasa. Ada tokoh masyarakat, pengurus ormas Islam, para guru ngaji, unsur MUI, hingga para sesepuh yang rambutnya memutih oleh waktu dan pengabdian. Ziarah ini seolah menjadi ruang pertemuan lintas peran, lintas usia, yang disatukan oleh keinginan untuk menundukkan hati di hadapan sejarah panjang syiar Islam di Nusantara.
Enam armada bus berjajar rapi, ditambah satu mobil ambulans yang setia mengawal perjalanan. Bukan sekadar perjalanan fisik, ziarah ini adalah perjalanan batin—meninggalkan hiruk-pikuk rutinitas, menuju ruang sunyi untuk merenung dan mengingat jasa para aulia yang telah menanamkan iman jauh sebelum kita lahir.
Ketua PCNU Kabupaten Bandung, KH. Agus Qustolany, menyebut ziarah ini sebagai agenda penuh makna. “Ziarah ke para aulia ini merupakan agenda tahunan Kabupaten Bandung yang diprakarsai Bapak Bupati Kang Dadang Supriatna, sebagai bentuk rasa syukur, dan juga mengajak berbagai kalangan masyarakat guna meneladani para tokoh pejuang syiar Islam,” ujarnya saat ditemui di sela keberangkatan.
Menurutnya, apa yang hari ini dirasakan umat Islam—iman, tradisi, dan nilai-nilai keislaman—tidak lahir begitu saja. “Sehingga kita saat ini, alhamdulillah, bisa merasakan iman Islamnya. Semua itu berkat perjuangan para wali dan ulama terdahulu,” tutur KH. Agus dengan nada penuh haru.
Ucapan terima kasih pun ia sampaikan secara khusus kepada Bupati Bandung. “Kami mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Bapak Bupati. Semoga beliau dan keluarga selalu mendapat rahmat, kesehatan, dan kelancaran dalam menjalankan tugasnya untuk memajukan Kabupaten Bandung tercinta,” tegasnya.
Perjalanan ziarah yang berlangsung dari 12 hingga 14 Desember 2025 itu dimulai menuju Cirebon, kota wali yang sarat sejarah. Di sana, rombongan menundukkan kepala di makam Sunan Gunung Djati, membiarkan doa-doa mengalir pelan, seiring langkah kaki yang menyusuri pelataran penuh khidmat.
Dari Cirebon, perjalanan berlanjut ke Demak, menziarahi makam para raja Mataram, lalu ke Kadilangu, tempat Sunan Kalijaga bersemayam. Setiap persinggahan seolah menjadi kelas terbuka tentang dakwah yang santun, budaya yang dirangkul, dan Islam yang tumbuh bersama masyarakat.
Kudus dan Yogyakarta menjadi tujuan berikutnya. Di kota-kota itu, para peserta kembali diingatkan bahwa Islam di Nusantara dibangun dengan hikmah, keteladanan, dan kesabaran panjang. Di dalam bus, cerita-cerita lama mengalir, diselingi tawa ringan, tasbih yang tak pernah lepas dari genggaman, dan doa yang lirih namun istiqamah.
Ketua Guru Ngaji Kabupaten Bandung, H. Uya Mulyana, menyampaikan pandangan senada. Ia menilai prakarsa Bupati Dadang Supriatna sebagai wujud rasa syukur yang nyata. “Ini bukan sekadar wisata, tapi ajakan untuk meneladani jasa para wali yang telah membawa hidayah iman Islam kepada kita semua,” ujarnya.
Baginya, ziarah ini juga menjadi penguat silaturahmi antar unsur masyarakat. Para guru ngaji, tokoh agama, dan pemangku kepentingan duduk sejajar, berbagi cerita dan harapan tentang masa depan umat dan daerah.
Minggu siang, rombongan kembali ke Kabupaten Bandung dengan selamat. Satu per satu peserta pulang ke rumah masing-masing, membawa oleh-oleh yang tak kasat mata: ketenangan, rasa syukur yang diperbarui, dan tekad untuk meneladani para aulia—menjadi manusia yang bermanfaat, di zamannya sendiri.
@bambang melga suprayogi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!