IWPG Bahas Peran Perempuan Wujudkan Perdamaian Berkelanjutan di Asia-Pasifik
International Women's Peace Group (IWPG) menyelenggarakan Global Women's Peace Forum secara daring selama dua hari mulai (20/7/2026)./visi.news/ist.
Kanakagiri Yashaswini dari India menjelaskan pentingnya meditasi dan pengelolaan emosi dalam membangun perdamaian jangka panjang.
"Kesejahteraan mental adalah infrastruktur perdamaian," katanya.
Pendiri sekaligus CEO Uniting Circle Multicultural Community Centre, Mujgan Tahery, membagikan pengalamannya sebagai pengungsi Afghanistan. Ia menekankan bahwa perempuan pengungsi dan migran perlu diakui sebagai bagian dari pemimpin pembangunan perdamaian.
"Perempuan bukan hanya sekadar penyintas. Perempuan adalah pembangun perdamaian," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kathleen Thein dari Myanmar menekankan pentingnya menghubungkan suara perempuan di tingkat komunitas dengan agenda perdamaian internasional.
Sementara itu, Dosen dan Peneliti La Trobe University, Dr. Huong Nguyen, mengangkat berbagai hambatan struktural yang dihadapi perempuan migran, seperti tidak diakuinya kualifikasi dari luar negeri dan ketimpangan tanggung jawab pengasuhan.
"Perdamaian dimulai ketika orang merasa memiliki tempat," katanya.
Dari Indonesia, Suraiya Kamaruzzaman memaparkan pengalaman Aceh sebagai wilayah yang pernah mengalami konflik berkepanjangan dan bencana tsunami 2004. Ia mengusulkan penguatan ketahanan komunitas melalui pemberian kewenangan yang lebih besar kepada perempuan dalam pengelolaan anggaran serta pengambilan keputusan terkait kesiapsiagaan dan penanganan bencana.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!