ITB Olah Limbah MBG Jadi Energi di Cimaung
"Di balik kesuksesan MBG, ada sebuah tantangan berupa keberadaan sampah. Tantangan inilah yang harus diselesaikan. Dalam konteks ini, kami sebagai bagian dari Institut Teknologi Bandung harus memberikan dampak bagi masyarakat dengan menghadirkan solusi yang nyata," katanya.
Mulyaningrum menjelaskan, dapur SPPG Cimaung setiap hari memproduksi sekitar 2.500 porsi makanan. Jumlah tersebut secara otomatis menghasilkan limbah organik dalam volume yang tidak sedikit.
"Sebanyak 2.500 porsi makanan per hari sudah pasti menghasilkan sampah organik. Padahal sampah organik masih menjadi persoalan besar di negara kita, khususnya di Jawa Barat dan Bandung. Karena itu, perlu ada solusi dari tingkat paling kecil agar persoalan ini tidak terus menumpuk," ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan dapur SPPG berpotensi menjadi unit terkecil pengelolaan sampah yang efektif, melengkapi berbagai program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang selama ini telah berjalan di tingkat lingkungan.
Dalam pelatihan tersebut, tim pengabdian ITB juga memberikan edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik berupa sisa sayuran, buah-buahan, serta sisa makanan dipisahkan dari sampah anorganik agar proses fermentasi anaerobik di dalam biodigester dapat berlangsung secara optimal.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan di lingkungan SPPG maupun masyarakat sekitar.
Selain aspek teknis, peserta juga diberikan pemahaman mengenai manfaat biodigester dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Limbah organik yang sebelumnya berpotensi menghasilkan gas metana di tempat pembuangan akhir dapat dimanfaatkan menjadi energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Tak hanya menghasilkan biogas, teknologi biodigester juga menghasilkan bio-slurry yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung sektor pertanian. Dengan demikian, pengolahan sampah tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!