ITB Olah Limbah MBG Jadi Energi di Cimaung
VISI.NEWS | BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK), ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik dapur berbasis biodigester di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cimaung 003, Kabupaten Bandung, Minggu (28/6/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Bottom Up ITB Tahun 2026 yang bertujuan mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengelolaan limbah organik yang lebih ramah lingkungan, sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Sebanyak 20 pekerja dapur SPPG Cimaung 003 mengikuti pelatihan tersebut. Mereka mendapatkan materi mengenai pentingnya pemilahan sampah organik, prinsip kerja biodigester, hingga praktik langsung mengoperasikan sistem yang mampu mengubah limbah organik menjadi biogas dan pupuk organik cair atau bio-slurry.
Perwakilan SPPG Cimaung 003, Wanwan Sutrisno, menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim pengabdian ITB yang dinilai memberikan solusi terhadap persoalan sampah organik yang selama ini menjadi tantangan dalam operasional dapur MBG.
Menurutnya, sejak SPPG Cimaung mulai beroperasi, persoalan pengelolaan sampah menjadi salah satu isu yang cukup sulit ditangani.
"SPPG Cimaung 003 mulai berjalan bulan Agustus, ada beberapa permasalahan dari sembilan bulan berjalan ini, sampah menjadi salah satu masalahnya. Kami bekerja sama dengan warga sekitar, tapi sudah mengganti enam kali pengelola. Karena memang sampah organik ini menjadi masalah di masyarakat juga," ujar Wanwan.
Ia berharap teknologi biodigester yang diperkenalkan ITB dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi pengelolaan limbah organik yang dihasilkan dapur MBG setiap hari.
Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian ITB, Dr. Mulyaningrum, S.Hut., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya dinilai dari terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga dari kemampuan mengelola dampak lingkungan yang muncul selama proses penyediaan makanan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!