ITB Olah Limbah MBG Jadi Energi di Cimaung

ED
PN
Senin, 29 Juni 2026 | 18:07 WIB
Bagikan
ITB Olah Limbah MBG Jadi Energi di Cimaung

VISI.NEWS | BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK), ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik dapur berbasis biodigester di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cimaung 003, Kabupaten Bandung, Minggu (28/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Bottom Up ITB Tahun 2026 yang bertujuan mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengelolaan limbah organik yang lebih ramah lingkungan, sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Sebanyak 20 pekerja dapur SPPG Cimaung 003 mengikuti pelatihan tersebut. Mereka mendapatkan materi mengenai pentingnya pemilahan sampah organik, prinsip kerja biodigester, hingga praktik langsung mengoperasikan sistem yang mampu mengubah limbah organik menjadi biogas dan pupuk organik cair atau bio-slurry.

Perwakilan SPPG Cimaung 003, Wanwan Sutrisno, menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim pengabdian ITB yang dinilai memberikan solusi terhadap persoalan sampah organik yang selama ini menjadi tantangan dalam operasional dapur MBG.

Menurutnya, sejak SPPG Cimaung mulai beroperasi, persoalan pengelolaan sampah menjadi salah satu isu yang cukup sulit ditangani.

"SPPG Cimaung 003 mulai berjalan bulan Agustus, ada beberapa permasalahan dari sembilan bulan berjalan ini, sampah menjadi salah satu masalahnya. Kami bekerja sama dengan warga sekitar, tapi sudah mengganti enam kali pengelola. Karena memang sampah organik ini menjadi masalah di masyarakat juga," ujar Wanwan.

Ia berharap teknologi biodigester yang diperkenalkan ITB dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi pengelolaan limbah organik yang dihasilkan dapur MBG setiap hari.

Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian ITB, Dr. Mulyaningrum, S.Hut., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya dinilai dari terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga dari kemampuan mengelola dampak lingkungan yang muncul selama proses penyediaan makanan.

"Di balik kesuksesan MBG, ada sebuah tantangan berupa keberadaan sampah. Tantangan inilah yang harus diselesaikan. Dalam konteks ini, kami sebagai bagian dari Institut Teknologi Bandung harus memberikan dampak bagi masyarakat dengan menghadirkan solusi yang nyata," katanya.

Mulyaningrum menjelaskan, dapur SPPG Cimaung setiap hari memproduksi sekitar 2.500 porsi makanan. Jumlah tersebut secara otomatis menghasilkan limbah organik dalam volume yang tidak sedikit.

"Sebanyak 2.500 porsi makanan per hari sudah pasti menghasilkan sampah organik. Padahal sampah organik masih menjadi persoalan besar di negara kita, khususnya di Jawa Barat dan Bandung. Karena itu, perlu ada solusi dari tingkat paling kecil agar persoalan ini tidak terus menumpuk," ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan dapur SPPG berpotensi menjadi unit terkecil pengelolaan sampah yang efektif, melengkapi berbagai program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang selama ini telah berjalan di tingkat lingkungan.

Dalam pelatihan tersebut, tim pengabdian ITB juga memberikan edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik berupa sisa sayuran, buah-buahan, serta sisa makanan dipisahkan dari sampah anorganik agar proses fermentasi anaerobik di dalam biodigester dapat berlangsung secara optimal.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan di lingkungan SPPG maupun masyarakat sekitar.

Selain aspek teknis, peserta juga diberikan pemahaman mengenai manfaat biodigester dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Limbah organik yang sebelumnya berpotensi menghasilkan gas metana di tempat pembuangan akhir dapat dimanfaatkan menjadi energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Tak hanya menghasilkan biogas, teknologi biodigester juga menghasilkan bio-slurry yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung sektor pertanian. Dengan demikian, pengolahan sampah tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga mendukung penerapan ekonomi sirkular.

Kegiatan pengabdian ini dipimpin oleh Dr. Mulyaningrum, S.Hut., M.Si. bersama anggota tim Dr. Ridwan Fauzi, S.Pd., M.H. Pelaksanaan program turut didukung oleh tiga mahasiswa ITB yang terlibat langsung dalam proses pelatihan dan pendampingan peserta.

Melalui program ini, ITB berupaya menghadirkan teknologi yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi dan pengelola SPPG diharapkan dapat melahirkan model pengelolaan sampah organik yang efektif dan dapat direplikasi di berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di seluruh Indonesia.

Ke depan, program tidak hanya berhenti pada pelatihan dan pemasangan unit biodigester. Tim ITB juga akan melanjutkan pendampingan operasional, monitoring, dan evaluasi guna memastikan teknologi yang diterapkan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Langkah tersebut diharapkan mampu mewujudkan dapur SPPG yang lebih bersih, efisien, mandiri energi, serta ramah lingkungan, sekaligus mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis secara menyeluruh.

Program bertajuk “Edukasi dan Implementasi Pengolahan Sampah Organik Dapur dari Program Makan Bergizi Gratis Berbasis Unit Biodigester di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cimaung” ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana inovasi teknologi dapat menjawab tantangan lingkungan sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, ITB berharap pengelolaan sampah organik tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.