Inovasi Produk Kue Ali Agrem dengan Tepung Ubi Ungu
Oleh Muhammad Fatih Fatin Nuha
KUE ALI mungkin tidak familiar bagi beberapa orang dikarenakan ini adalah makanan khas dari wilayah Jawa Barat yang memiliki citarasa khas. Teksturnya lembut warnanya gelap dan dan rasanya cenderung manis agak krispi /kering tanpa perlu tambahan topping seperti meses. Ketika kue ini masuk ke mulut rasanya sangat khas hal inilah yang mencirikan Kue Ali. Tentu dengan bentuknya yang sangat unik dan berbeda dari Kue Kue ringan lainnya.
Asal Usul Kue Ali
Kue cincin ditemukan dalam khasanah kuliner Sunda. Maka kue ini juga ditemukan di Jawa Barat dan Banten. Di Jawa Barat, kue ini dinamakan sebagai Ali Agrem, sedangkan di daerah Banten disebut kolong-kolong. Ali dalam bahasa Sunda yaitu cincin, sedangkan kolong berarti bolong atau ruang. Sekilas kue ini menyerupai donat namun punya bentuk yang lebih kecil.
Jika melihatnya, mungkin akan mengingatkan kita dengan bentuk cincin karenanya camilan ini lebih dikenal dengan nama Kue Cincin. Namun nama kue cincin kemudian dikenal dengan kata “Ali Agrem“. Dinamakan Ali Agrem karena bentuknya menyerupai cincin, dimana dalam bahasa Sunda cincin adalah Ali.
Kue Cincin adalah salah satu makanan tradisional yang berasal dari Purwakarta. Dari daerah asalnya sendiri, kue ini sering disajikan saat upacara pernikahan. Hal unik yang bisa ditemui dalam kue ali agrem ini, karena bentuknya bulat menyerupai cincin, mengandung filosopi yang bermakna keberlanjutan yang tiada akhir (menggambarkan keabadian), jangan berputus asa dalam menghadapi rintangan. Diharapkan ke dua mempelai bisa selalu bersama hingga maut memisahkan. Sementara rasa manis dari kue ini mengandung makna harapan yang baik dan selalu berpikiran positif.
Dari kandungan filosopi kue Ali Agrem ini diharapkan, agar kita bisa selalu berpikir positif dan selalu berbuat baik, jangan berputus asa terhadap suatu kegagalan, dengan segala ihktiar yang dilakukan diharapkan dapat mendapatkan hasil yang maksimal .
Dinas Perhubungan Kabupaten Karawang dalam lamannya menuliskan bahwa salah satu makanan tradisional Sunda dari Karawang ini dahulu selalu hadir dalam berbagai acara yang berkaitan dengan tradisi yang berlangsung dalam masyarakat Sunda seperti pernikahan, khitanan, tujuh bulanan, ataupun dalam perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!