Ilmuwan Jelaskan Alasan Eropa Mengalami Gelombang Panas
Ilustrasi./visi.news/BMKG.
VISI.NEWS - Gelombang panas yang melanda Eropa pekan ini tercatat sebagai salah satu yang terpanas dan paling lembap dalam sejarah pengamatan. Sejumlah ilmuwan memperingatkan kondisi cuaca ekstrem tersebut berpotensi meningkatkan risiko kematian di berbagai negara.
Temuan tersebut diungkap dalam studi terbaru yang dilakukan jaringan ilmuwan World Weather Attribution (WWA). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa gelombang panas kali ini bukan dipicu fenomena El Niño, melainkan terutama disebabkan oleh pemanasan global.
Para peneliti menganalisis peluang terjadinya suhu maksimum harian rata-rata pada 26 hingga 28 Juni di Eropa Barat dan Eropa Tengah dengan membandingkannya terhadap kondisi iklim pada 1976 dan 2003.
Mereka menjelaskan pola cuaca berupa kubah panas (heat dome) yang menjebak udara panas dari wilayah selatan bukanlah fenomena baru. Namun, suhu yang terjadi saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Berdasarkan hasil studi, apabila peristiwa serupa terjadi sekitar 50 tahun lalu, suhu gelombang panas pada Juni diperkirakan sekitar 3,5 derajat Celsius lebih rendah. Bahkan, suhu ekstrem yang tercatat selama tiga hari tersebut diperkirakan hanya akan terjadi kurang dari satu kali dalam 10.000 tahun pada kondisi iklim masa lalu.
Dampak gelombang panas telah dirasakan di berbagai negara. Suhu siang di sejumlah wilayah Prancis melampaui 44 derajat Celsius, sementara suhu malam di beberapa daerah di Spanyol tetap berada di atas 30 derajat Celsius.
"Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada Juni tanpa adanya perubahan iklim," kata Theodore Keeping dari Imperial College London dikutip, Rabu (1/7/2026).
"Suhu malam selama tiga hari berturut-turut seperti ini juga tidak mungkin terjadi kapan pun sepanjang tahun tanpa perubahan iklim," lanjutnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!