Ilmuwan Jelaskan Alasan Eropa Mengalami Gelombang Panas

Desi Rossilawati
Rabu, 1 Juli 2026 | 15:48 WIB
Bagikan
Ilmuwan Jelaskan Alasan Eropa Mengalami Gelombang Panas

Ilustrasi./visi.news/BMKG.

VISI.NEWS - Gelombang panas yang melanda Eropa pekan ini tercatat sebagai salah satu yang terpanas dan paling lembap dalam sejarah pengamatan. Sejumlah ilmuwan memperingatkan kondisi cuaca ekstrem tersebut berpotensi meningkatkan risiko kematian di berbagai negara.

Temuan tersebut diungkap dalam studi terbaru yang dilakukan jaringan ilmuwan World Weather Attribution (WWA). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa gelombang panas kali ini bukan dipicu fenomena El Niño, melainkan terutama disebabkan oleh pemanasan global.

Para peneliti menganalisis peluang terjadinya suhu maksimum harian rata-rata pada 26 hingga 28 Juni di Eropa Barat dan Eropa Tengah dengan membandingkannya terhadap kondisi iklim pada 1976 dan 2003.

Mereka menjelaskan pola cuaca berupa kubah panas (heat dome) yang menjebak udara panas dari wilayah selatan bukanlah fenomena baru. Namun, suhu yang terjadi saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Berdasarkan hasil studi, apabila peristiwa serupa terjadi sekitar 50 tahun lalu, suhu gelombang panas pada Juni diperkirakan sekitar 3,5 derajat Celsius lebih rendah. Bahkan, suhu ekstrem yang tercatat selama tiga hari tersebut diperkirakan hanya akan terjadi kurang dari satu kali dalam 10.000 tahun pada kondisi iklim masa lalu.

Dampak gelombang panas telah dirasakan di berbagai negara. Suhu siang di sejumlah wilayah Prancis melampaui 44 derajat Celsius, sementara suhu malam di beberapa daerah di Spanyol tetap berada di atas 30 derajat Celsius.

"Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada Juni tanpa adanya perubahan iklim," kata Theodore Keeping dari Imperial College London dikutip, Rabu (1/7/2026).

"Suhu malam selama tiga hari berturut-turut seperti ini juga tidak mungkin terjadi kapan pun sepanjang tahun tanpa perubahan iklim," lanjutnya.

Selain suhu yang tinggi, tingkat kelembapan udara juga mencapai level yang belum pernah tercatat sebelumnya. Di banyak kota di Inggris, kelembapan melampaui 50 persen dengan suhu titik embun berada di kisaran 20 derajat Celsius, lebih tinggi dibandingkan gelombang panas pada Juli 2022.

Studi tersebut juga menemukan bahwa nilai wet-bulb globe temperature (WBGT), yaitu indeks yang mengukur kombinasi suhu udara, kelembapan, radiasi panas, dan pergerakan udara, telah memecahkan atau diperkirakan akan memecahkan rekor di hampir separuh kota di Eropa.

Menurut para peneliti, kelembapan yang tinggi meningkatkan risiko kesehatan karena memperlambat proses penguapan keringat sehingga tubuh menjadi lebih sulit mendinginkan diri. Kelompok yang paling rentan meliputi lansia, penderita penyakit kronis, migran, dan tunawisma.

"Apa yang kita lihat dengan sangat jelas adalah betapa tidak meratanya dampak gelombang panas ini dan bagaimana kondisi tersebut menunjukkan ketimpangan yang semakin melebar akibat perubahan iklim," ujar Friederike Otto.

"Karena tentu saja kelompok yang paling rentan adalah mereka yang paling mungkin kehilangan nyawa," tambahnya.

Meski jumlah korban akibat gelombang panas kali ini belum dapat dipastikan, penelitian sebelumnya menunjukkan gelombang panas yang lebih ringan pada Juni dan Juli 2025 menyebabkan sekitar 2.300 kematian di London dan 11 kota lainnya di Eropa.

"Dampak gelombang panas ini terhadap kesehatan kemungkinan akan sangat besar di sebagian besar wilayah Eropa Utara dan Eropa Tengah," kata Keeping.

Para peneliti menegaskan gelombang panas akan semakin sering dan semakin intens apabila emisi bahan bakar fosil tidak segera ditekan secara signifikan. Mereka juga menilai Eropa sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat masih belum siap menghadapi kondisi tersebut.

Sebagai langkah mitigasi, para peneliti mendorong investasi pada sistem pendinginan pasif, seperti peningkatan insulasi bangunan, ventilasi yang lebih baik, atap dan dinding hijau, serta penanaman pohon di kawasan perkotaan.

Sementara itu, Carolina Pereira Marghidan dari Red Cross Red Crescent Climate Centre meminta pemerintah di Eropa memperluas cakupan rencana penanganan gelombang panas agar mencakup kelompok rentan, termasuk penderita gangguan kesehatan mental dan ibu hamil.

"Eropa memang memiliki rencana aksi menghadapi gelombang panas, tetapi penelitian juga menunjukkan bahwa terkadang rencana tersebut belum mencakup seluruh kelompok yang mungkin rentan," ujarnya.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.