Google Izinkan Watermark AI Dihapus, Tapi Tanda Digital Tetap Ada

ED
PN
Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:47 WIB
Bagikan
Google Izinkan Watermark AI Dihapus, Tapi Tanda Digital Tetap Ada

Bagi pengguna biasa, perbedaan tersebut cukup penting. Sebuah gambar yang tidak lagi memiliki ikon AI di sudutnya belum tentu merupakan gambar yang dibuat manusia. Pemeriksaan lebih lanjut melalui teknologi pendeteksi atau informasi kredensial konten tetap diperlukan untuk mengetahui asal-usulnya.

Google bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang mengembangkan pendekatan semacam itu. Industri AI secara luas tengah mencari cara untuk memberikan transparansi tanpa mengurangi fleksibilitas pengguna dalam memanfaatkan teknologi generatif.

Layanan AI pembuat musik Suno, misalnya, juga mengembangkan sistem pelabelan untuk menunjukkan bahwa sebuah karya dibuat menggunakan AI. Sementara itu, Anthropic telah menggunakan penanda berbasis C2PA yang tidak terlihat pada konten dan file yang dihasilkan Claude.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan perusahaan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan gambar, video, musik, atau teks, tetapi juga bagaimana memastikan konten tersebut dapat dikenali dan diverifikasi.

Di satu sisi, watermark terlihat memberikan cara sederhana bagi masyarakat untuk segera mengetahui bahwa sebuah konten dibuat menggunakan AI. Namun, di sisi lain, tanda tersebut dapat mengurangi fleksibilitas penggunaan hasil generasi AI, terutama bagi pengguna yang membutuhkan materi visual dengan tampilan bersih.

Google kini mencoba mengambil jalan tengah. Pengguna mendapatkan pilihan untuk menghilangkan tanda yang terlihat, tetapi sistem penanda digital yang tidak terlihat tetap dipertahankan.

Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan dalam cara industri teknologi memandang transparansi AI. Identitas sebuah konten tidak lagi semata-mata bergantung pada tanda yang terlihat oleh mata, tetapi juga pada informasi digital yang tertanam di dalam file dan dapat diperiksa menggunakan teknologi tertentu.

Dengan semakin luasnya penggunaan AI dalam pembuatan gambar, video, musik, dan berbagai bentuk konten lainnya, kemampuan untuk mengetahui asal-usul sebuah karya diperkirakan akan menjadi semakin penting. Terlebih, regulasi seperti AI Act di Uni Eropa mulai menetapkan kewajiban transparansi secara lebih tegas.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.