Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia
Selama penelitian, sebanyak 2.365 sampel berhasil dikumpulkan, meliputi 329 kelompok spesimen biologis dan 528 sampel eDNA dari berbagai lokasi di dasar laut maupun kolom air. Sebanyak 243 sampel jaringan organisme dari sembilan filum juga dikoleksi untuk mendukung penelitian genom serta penyusunan basis data genetik spesies laut dalam.
Temuan awal mengungkap keberadaan taman spons (sponge gardens) dan komunitas terumbu karang laut dalam yang sangat luas di kawasan Roo Rise. Habitat tersebut menjadi rumah bagi berbagai spesies pembentuk ekosistem serta organisme yang selama ini dikenal sebagai indikator Vulnerable Marine Ecosystems (VME) atau ekosistem laut yang rentan.
Para peneliti juga menemukan komunitas beragam yang terdiri atas bintang laut dan bulu babi (echinodermata), krustasea, moluska, annelida, hingga berbagai jenis ikan yang hidup berdampingan dengan karang dan spons di dasar laut.
Salah satu penemuan menarik lainnya adalah empat tipe xenophyophore, organisme bersel tunggal berukuran raksasa yang diduga merupakan spesies baru. Temuan tersebut masih akan menjalani kajian taksonomi dan analisis molekuler sebelum dapat dipastikan sebagai spesies yang belum pernah dideskripsikan.
Tim juga mendokumentasikan habitat dasar laut yang tidak biasa berupa karbonat hasil proses diagenesis awal yang dihuni koloni foraminifera dalam jumlah melimpah.
Science Program Manager sekaligus Expedition Coordinator OceanX, Dr. Alexis Weinnig, mengatakan kawasan Roo Rise merupakan wilayah yang sangat penting bagi produktivitas laut dunia dan perikanan, namun masih minim penelitian.
"Selama 22 hari terakhir, kami berhasil memetakan struktur gunung bawah laut dan mendokumentasikan komunitas laut dalam. Kami juga mengumpulkan sampel mulai dari dasar laut hingga kolom air. Penggabungan seluruh data ini akan memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat bagi para peneliti dan pembuat kebijakan untuk memahami kawasan laut lepas ini," ujarnya.
Kawasan selatan Pulau Jawa sendiri dikenal memiliki fenomena upwelling musiman yang meningkatkan produktivitas perairan. Wilayah tersebut juga menjadi satu-satunya lokasi pemijahan yang diketahui bagi Southern Bluefin Tuna yang berstatus terancam punah, meski ekspedisi kali ini berlangsung di luar musim pemijahannya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!