Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia
VISI.NEWS – Organisasi eksplorasi kelautan OceanX mengumumkan keberhasilan menyelesaikan ekspedisi ilmiah selama 22 hari bertajuk High Seas: Revealing Roo Rise yang meneliti salah satu kawasan laut lepas paling penting sekaligus paling sedikit dipelajari di Samudra Hindia bagian timur. Ekspedisi tersebut menghasilkan ribuan sampel ilmiah, pemetaan dasar laut baru, serta temuan ekosistem laut dalam yang berpotensi memperkaya pengetahuan dunia mengenai keanekaragaman hayati di wilayah perairan internasional.
Ekspedisi dilakukan menggunakan kapal riset R/V OceanXplorer dengan melibatkan sejumlah mitra internasional, di antaranya Minderoo Foundation, Minderoo OceanOmics Centre di University of Western Australia (UWA), Western Australian Museum, Living High Seas Initiative, serta peneliti dari Nanyang Technological University, Singapura.
Fokus penelitian diarahkan pada dua gunung bawah laut (seamount) di kawasan Roo Rise. Salah satu lokasi berada di dalam kawasan South of Java Island Ecologically and Biologically Significant Marine Area (EBSA), sedangkan satu lokasi lainnya berada di dekat batas barat daya kawasan tersebut.
Selama ekspedisi, tim ilmuwan memanfaatkan teknologi pemetaan dasar laut beresolusi tinggi, kendaraan bawah laut tanpa awak (Remotely Operated Vehicle/ROV), pengambilan sampel DNA lingkungan (environmental DNA/eDNA), survei plankton, pemantauan kolom air, hingga pengumpulan spesimen biologis dari berbagai kedalaman laut.
Hasil ekspedisi menunjukkan pencapaian signifikan. Tim berhasil memetakan sekitar 12.833 kilometer persegi dasar laut, termasuk 9.333 kilometer persegi di wilayah perairan internasional. Dari luas tersebut, sekitar 8.232 kilometer persegi atau 64 persen merupakan data pemetaan baru yang sebelumnya belum tercatat dalam basis data global maupun Australia.
Selain itu, peneliti melakukan delapan penyelaman menggunakan ROV, satu penyelaman kapal selam berawak, sembilan pengukuran CTD untuk menganalisis karakteristik air laut, 15 survei menggunakan jaring plankton (bongo net), serta enam pengukuran suhu laut menggunakan XBT. Pengukuran terdalam mencapai kedalaman 3.845 meter.
Selama penelitian, sebanyak 2.365 sampel berhasil dikumpulkan, meliputi 329 kelompok spesimen biologis dan 528 sampel eDNA dari berbagai lokasi di dasar laut maupun kolom air. Sebanyak 243 sampel jaringan organisme dari sembilan filum juga dikoleksi untuk mendukung penelitian genom serta penyusunan basis data genetik spesies laut dalam.
Temuan awal mengungkap keberadaan taman spons (sponge gardens) dan komunitas terumbu karang laut dalam yang sangat luas di kawasan Roo Rise. Habitat tersebut menjadi rumah bagi berbagai spesies pembentuk ekosistem serta organisme yang selama ini dikenal sebagai indikator Vulnerable Marine Ecosystems (VME) atau ekosistem laut yang rentan.
Para peneliti juga menemukan komunitas beragam yang terdiri atas bintang laut dan bulu babi (echinodermata), krustasea, moluska, annelida, hingga berbagai jenis ikan yang hidup berdampingan dengan karang dan spons di dasar laut.
Salah satu penemuan menarik lainnya adalah empat tipe xenophyophore, organisme bersel tunggal berukuran raksasa yang diduga merupakan spesies baru. Temuan tersebut masih akan menjalani kajian taksonomi dan analisis molekuler sebelum dapat dipastikan sebagai spesies yang belum pernah dideskripsikan.
Tim juga mendokumentasikan habitat dasar laut yang tidak biasa berupa karbonat hasil proses diagenesis awal yang dihuni koloni foraminifera dalam jumlah melimpah.
Science Program Manager sekaligus Expedition Coordinator OceanX, Dr. Alexis Weinnig, mengatakan kawasan Roo Rise merupakan wilayah yang sangat penting bagi produktivitas laut dunia dan perikanan, namun masih minim penelitian.
"Selama 22 hari terakhir, kami berhasil memetakan struktur gunung bawah laut dan mendokumentasikan komunitas laut dalam. Kami juga mengumpulkan sampel mulai dari dasar laut hingga kolom air. Penggabungan seluruh data ini akan memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat bagi para peneliti dan pembuat kebijakan untuk memahami kawasan laut lepas ini," ujarnya.
Kawasan selatan Pulau Jawa sendiri dikenal memiliki fenomena upwelling musiman yang meningkatkan produktivitas perairan. Wilayah tersebut juga menjadi satu-satunya lokasi pemijahan yang diketahui bagi Southern Bluefin Tuna yang berstatus terancam punah, meski ekspedisi kali ini berlangsung di luar musim pemijahannya.
Minderoo Foundation bersama OceanOmics Centre memimpin penelitian berbasis DNA lingkungan selama ekspedisi. Sebanyak 528 sampel eDNA dikumpulkan dari berbagai titik pengamatan, sementara jaringan dari 243 spesimen akan digunakan dalam proses pengurutan genom lengkap (whole-genome sequencing) untuk membangun referensi genetik keanekaragaman hayati laut.
Di Pulau Christmas yang berada di bawah yurisdiksi Australia, tim juga mengumpulkan sampel eDNA dari 90 lokasi, termasuk 20 lokasi yang sebelumnya telah disurvei pada 2023. Data tersebut akan digunakan untuk membandingkan kondisi keanekaragaman hayati antara kawasan konservasi laut dengan wilayah laut lepas yang tingkat perlindungannya lebih rendah.
Principal Research Fellow sekaligus Kepala OceanOmics Centre di University of Western Australia, Dr. Shannon Corrigan, mengatakan penelitian ini menjadi fondasi penting bagi pemantauan biodiversitas berbasis genom di kawasan laut dalam yang selama ini sulit dijangkau.
Menurutnya, data tersebut akan sangat penting dalam mendukung implementasi Agreement on Biodiversity Beyond National Jurisdiction (BBNJ) atau Perjanjian Keanekaragaman Hayati di Luar Yurisdiksi Nasional, yang bertujuan meningkatkan perlindungan ekosistem laut lepas.
Sementara itu, ilmuwan Western Australian Museum bertugas melakukan identifikasi taksonomi terhadap berbagai spesimen yang berhasil dikumpulkan. Seluruh spesimen akan disimpan sebagai koleksi permanen museum sehingga dapat dimanfaatkan untuk penelitian lanjutan mengenai biodiversitas laut dalam.
Direktur Sains Western Australian Museum Jennifer McIlwain mengatakan nilai terbesar dari ekspedisi seperti ini terletak pada spesimen yang berhasil dibawa pulang.
"Rekaman video memang luar biasa, tetapi spesimenlah yang memungkinkan kami memastikan identitas organisme, mendeskripsikan spesies baru, dan menyediakan catatan permanen yang dapat dipelajari kembali di masa depan. Kami juga menemukan bahwa setiap gunung bawah laut memiliki komunitas organisme yang sangat berbeda meskipun secara peta tampak serupa," katanya.
Selain kegiatan ilmiah, ekspedisi juga melibatkan masyarakat melalui siaran langsung dari atas kapal OceanXplorer. Lebih dari 100 orang menghadiri kegiatan di Western Australian Museum Boola Bardip, sementara sekitar 80 hingga 100 warga Pulau Christmas mengikuti siaran langsung sebelumnya. Di Pulau Christmas sendiri, sedikitnya 345 peserta mengikuti berbagai kegiatan edukasi, pengambilan sampel, dan pelatihan yang diselenggarakan selama program berlangsung.
Penelitian juga menghasilkan data awal mengenai plankton dan mikroorganisme yang berkaitan dengan fenomena Milky Seas atau lautan bercahaya. Para peneliti berhasil mengisolasi bakteri bioluminesensi dari radiolaria dan zooplankton yang nantinya akan dianalisis lebih lanjut melalui studi genomik dan fisiologi.
OceanX menyatakan seluruh data ilmiah dari ekspedisi ini akan diproses lebih lanjut melalui kajian taksonomi, metabarcoding eDNA, pengurutan genom lengkap, serta analisis oseanografi dan pemetaan dasar laut. Setelah memperoleh validasi ilmiah, data tersebut diharapkan dapat mendukung penelitian global mengenai keanekaragaman hayati laut, ekosistem gunung bawah laut, serta penyusunan kebijakan konservasi kawasan laut lepas di masa mendatang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!