Djuaesih, Wanita Sunda yang Pertama Kali Berpidato di Muktamar NU
Menurutnya, NU mempunyai kewajiban untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam, dan itu bukan hanya tanggung jawab kaum pria. Karena itu, ia mengusulkan agar perempuan NU dapat menjadl anggota dan aktif serta memiliki wadah organisasi sendiri.
Dalam forum Muktamar NU di Menes tersebut, sebagaimana dilukiskan Mahbib Khoiron yang mengutip "50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa", 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU), Djuaesih menyatakan, ”Di dalam agama Islam, bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita juga wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu, kaum wanita yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama mesti bangkit...."
Meskipun menjadi salah satu perintis organisasi perempuan NU, ia tidak menduduki jabatan tertentu pada kepengurusan pertama Muslimat NU Jawa Barat. Baru pada periode 1950-1952 Djuaesih menjabat sebagai ketua. "Di dalam Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita pun wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu, kami wanita yang tergabung dalam NU mesti bangkit."@mpa/nu/abdullah alawi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!