Dampak Gig Economy, Hidup Sebagai Pekerja Lepas di Malaysia Dieksploitasi dan Tak Dilindungi

ED
Rabu, 21 Februari 2024 | 07:25 WIB
Bagikan
Dampak Gig Economy, Hidup Sebagai Pekerja Lepas di Malaysia Dieksploitasi dan Tak Dilindungi

Akibatnya, meningkatnya resistensi pekerja gig terhadap proses pengambilan keuntungan eksploitatif yang didorong oleh platform tidak dapat disangkal.

Pekerja gig di negara-negara ASEAN mungkin bisa belajar dari gerakan perlawanan pekerja gig di Barat. Dengan pola pikir individualistis, pekerja gig di negara-negara Barat sangat menolak perbaikan kondisi kerja mereka, dan jika mereka tidak menyukainya, mereka akan memprotes keras platform tersebut.

Salah satu contohnya adalah resistensi pengemudi Uber di Inggris. Pada bulan Februari 2021, Mahkamah Agung Inggris mengakui pengemudi Uber sebagai karyawan, bukan sebagai pemilik tunggal. Hal ini merupakan hasil dari penolakan yang terus-menerus dari para pengemudi ride-hailing Inggris di pengadilan sejak tahun 2016 terhadap hak-hak mereka sebagai karyawan, seperti upah minimum dan jaminan sosial.

Platform aslinya sendiri tidak disesuaikan dengan karakteristik pekerja gig di Asia, namun didasarkan pada model bisnis platform gaya Barat yang diwakili oleh Uber. Ketidakselarasan ini merupakan tren yang umum terjadi di gig economy ASEAN. Untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman bagi mereka di masa depan, mekanisme aksi kolektif yang efektif perlu dijajaki.

Mengingat sifat kolektivis pekerja gig di ASEAN, khususnya yang berada di Malaysia, maka dimungkinkan untuk mengadopsi struktur di mana satu organisasi bertindak sebagai alat komunikasi formal dengan platform tersebut.

Akibatnya, pekerja gig yang telah mendaftar pada platform ini dapat melakukan perlawanan dan boikot yang kuat melalui organisasi mereka sebagai cara untuk melawan kondisi kerja yang tidak adil.

Memang benar, bagaimana meningkatkan pemahaman bersama dan memperluas solidaritas dalam situasi solidaritas yang tersebar dimana terdapat berbagai komunitas akan memainkan peran penting dalam akses mereka terhadap kesusilaan.***

  • Yosuke Uchiyama adalah kandidat PhD di Fakultas Seni dan Ilmu Sosial, Universitas Malaya, Malaysia. Ia berspesialisasi dalam ekonomi bisnis termasuk ekonomi digital, gig economy dan sharing economy, hukum dan ekonomi, serta studi transportasi.
  • Artikel ini merupakan bagian dari Laporan Khusus ‘Asian Gig Economy, yang dibuat bekerja sama dengan Asia Research Center – Universitas Indonesia.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.