Blue Moon dan Micromoon Hiasi Langit Indonesia Awal Juni
Blue Moon./visi.news/januari.id.
VISI.NEWS | BANDUNG - Langit Indonesia akan menyajikan fenomena menarik pada akhir Mei hingga awal Juni 2026 dengan kemunculan Blue Moon dan Micromoon yang berlangsung dalam rentang waktu berdekatan. Meski kedua istilah tersebut populer di kalangan masyarakat, para astronom menegaskan bahwa keduanya lebih merupakan istilah populer dibandingkan istilah ilmiah dalam astronomi.
Fenomena Blue Moon dijadwalkan dapat diamati pada Minggu malam hingga Senin dini hari. Berbeda dengan persepsi yang berkembang di masyarakat, Blue Moon tidak berarti Bulan akan berubah warna menjadi biru. Astronom amatir dari lembaga Ekliptika, Marufin Sudibyo, menjelaskan bahwa istilah tersebut berasal dari tradisi dan folklor Amerika Serikat yang berkembang sejak 1937.
"Kosakata Blue Moon tidak memiliki latar belakang ilmiah astronomi, namun lebih kepada folklor Amerika Serikat yang mulai berkembang di tahun 1937. Sebelum itu tidak dikenal. Blue Moon dinisbatkan kepada Bulan purnama kedua dalam sebuah bulan kalender Gregorian / Tarikh Umum terutama pada kondisi dimana dalam setahun Gregorian terjadi 13 kali Bulan purnama," kata Marufin dalam keterangannya dikutip, Sabtu (30/5/2026).
Dalam kondisi normal, satu tahun kalender hanya memiliki 12 kali Bulan purnama. Namun, ketika posisi Bulan purnama pertama terjadi cukup awal dalam satu bulan kalender, maka dapat muncul purnama kedua pada bulan yang sama. Purnama kedua inilah yang dikenal sebagai Blue Moon. Fenomena tersebut tergolong jarang karena rata rata hanya terjadi setiap 32 hingga 33 bulan sekali.
Sementara itu, pada Senin malam, masyarakat juga dapat menyaksikan Micromoon atau yang dalam istilah astronomi lebih dikenal sebagai Bulan purnama apogean. Fenomena ini terjadi ketika fase purnama berlangsung saat Bulan berada di sekitar titik terjauhnya dari Bumi.
"Seperti halnya kosakata Supermoon dan Bluemoon, kosakata Micromoon juga tidak memiliki latar belakang ilmiah astronomi. Astronom umumnya menggunakan istilah Bulan purnama apogean, karena fase purnama terjadi di sekitar titik apoge Bulan (yakni titik dimana Bulan menempati jarak terjauhnya terhadap Bumi)," lanjutnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!