BI Rate dan Sinergi Kebijakan Perkuat Rupiah
Nilai tukar rupiah./visi.news/shutterstock.
Ia menambahkan, data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan turut memperkuat dolar sebagai aset aman (safe haven), sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi juga menilai kebijakan suku bunga tinggi AS serta kenaikan harga minyak dunia turut memberi tekanan pada rupiah. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi dan memperlebar tekanan neraca transaksi berjalan.
Dari dalam negeri, ia menyoroti inflasi, penyempitan surplus perdagangan, hingga perubahan outlook utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody’s sebagai faktor tambahan yang membebani pasar.
BI Rate dan Dampaknya ke Ekonomi
Di sisi lain, kenaikan BI-Rate dinilai membantu stabilitas rupiah dan menarik investor ke instrumen obligasi domestik. Namun, Ibrahim mengingatkan dampaknya terhadap suku bunga kredit masyarakat.
“BI membantu pemerintah agar lelang obligasi laku di pasar. BI menaikkan suku bunga acuan 5,5% mendorong imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik menjadi 7,4%,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan suku bunga juga berpotensi menekan daya beli masyarakat karena berdampak pada bunga kredit seperti KPR dan kredit kendaraan.
Prospek Rupiah ke Depan
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan koordinasi dengan pemerintah.
“Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat menuju ke level fundamentalnya,” kata Destry.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!