BI Rate dan Sinergi Kebijakan Perkuat Rupiah
Nilai tukar rupiah./visi.news/shutterstock.
VISI.NEWS | BANDUNG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan pada pertengahan Juni 2026 setelah sempat mengalami tekanan cukup dalam dalam beberapa bulan terakhir. Penguatan ini disebut didorong oleh sinergi kebijakan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yang berhasil meningkatkan kepercayaan investor.
Berdasarkan catatan BI, rupiah ditutup menguat 0,84 persen ke level Rp17.865 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026), dari posisi 5 Juni 2026 yang berada di Rp18.010 per dolar AS.
“Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam keterangan dikutip, Sabtu (13/6/2026).
Destry menjelaskan, penguatan rupiah ditopang oleh sejumlah kebijakan BI, termasuk kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga insentif hedging swap bagi investor asing.
Selain itu, BI juga memperluas akses repo untuk menjaga likuiditas perbankan serta meningkatkan intensitas operasi moneter di pasar rupiah dan valuta asing.
“Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah kenaikan BI-Rate, aliran modal asing menunjukkan perkembangan positif yang tercermin dari meningkatnya transaksi SRBI nonresiden dan Surat Berharga Negara (SBN), masing-masing sebesar Rp15,11 triliun dan Rp3,91 triliun pada 10–11 Juni 2026.
Selain itu, penerbitan obligasi internasional Danantara juga mencatat minat tinggi dengan nilai penjualan perdana mencapai Rp26,9 triliun.
“Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” tutur Destry.
Dari sisi kebijakan internasional, BI juga memperkuat kerja sama keuangan dengan People’s Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA), termasuk penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) serta perluasan penggunaan Local Currency Transaction (LCT).
“Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Pergerakan Rupiah Sepanjang 2026
Sebelumnya, rupiah sempat bergerak fluktuatif sepanjang 2026 dan bahkan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni. Pada 4 Juni 2026, rupiah tercatat melemah ke Rp18.034 per dolar AS dan berlanjut hingga Rp18.166 pada 8 Juni 2026.
Tekanan mulai mereda setelah BI menaikkan suku bunga acuan pada 9 Juni 2026. Rupiah kemudian menguat ke Rp17.966 pada 10 Juni, Rp17.977 pada 11 Juni, dan berada di Rp17.916 pada 12 Juni 2026.
Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh level terlemah di Rp18.010 per dolar AS pada awal Juni, setelah sepanjang April hingga Mei bergerak dalam kisaran Rp16.700 hingga Rp17.900.
Sentimen Global dan Domestik Tekan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, terutama penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian global.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” ujar Lukman.
Ia menambahkan, data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan turut memperkuat dolar sebagai aset aman (safe haven), sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi juga menilai kebijakan suku bunga tinggi AS serta kenaikan harga minyak dunia turut memberi tekanan pada rupiah. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi dan memperlebar tekanan neraca transaksi berjalan.
Dari dalam negeri, ia menyoroti inflasi, penyempitan surplus perdagangan, hingga perubahan outlook utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody’s sebagai faktor tambahan yang membebani pasar.
BI Rate dan Dampaknya ke Ekonomi
Di sisi lain, kenaikan BI-Rate dinilai membantu stabilitas rupiah dan menarik investor ke instrumen obligasi domestik. Namun, Ibrahim mengingatkan dampaknya terhadap suku bunga kredit masyarakat.
“BI membantu pemerintah agar lelang obligasi laku di pasar. BI menaikkan suku bunga acuan 5,5% mendorong imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik menjadi 7,4%,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan suku bunga juga berpotensi menekan daya beli masyarakat karena berdampak pada bunga kredit seperti KPR dan kredit kendaraan.
Prospek Rupiah ke Depan
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan koordinasi dengan pemerintah.
“Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat menuju ke level fundamentalnya,” kata Destry.
Senada, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis tekanan rupiah akan mereda pada semester II 2026, seiring penguatan kebijakan fiskal, moneter, serta meningkatnya devisa dari ekspor dan investasi.
Ia menyebut kombinasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan pendalaman pasar keuangan domestik akan memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri.
“Maka rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II tahun 2026,” ujarnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!