BI Rate dan Sinergi Kebijakan Perkuat Rupiah
Nilai tukar rupiah./visi.news/shutterstock.
“Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” tutur Destry.
Dari sisi kebijakan internasional, BI juga memperkuat kerja sama keuangan dengan People’s Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA), termasuk penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) serta perluasan penggunaan Local Currency Transaction (LCT).
“Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Pergerakan Rupiah Sepanjang 2026
Sebelumnya, rupiah sempat bergerak fluktuatif sepanjang 2026 dan bahkan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni. Pada 4 Juni 2026, rupiah tercatat melemah ke Rp18.034 per dolar AS dan berlanjut hingga Rp18.166 pada 8 Juni 2026.
Tekanan mulai mereda setelah BI menaikkan suku bunga acuan pada 9 Juni 2026. Rupiah kemudian menguat ke Rp17.966 pada 10 Juni, Rp17.977 pada 11 Juni, dan berada di Rp17.916 pada 12 Juni 2026.
Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh level terlemah di Rp18.010 per dolar AS pada awal Juni, setelah sepanjang April hingga Mei bergerak dalam kisaran Rp16.700 hingga Rp17.900.
Sentimen Global dan Domestik Tekan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, terutama penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian global.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” ujar Lukman.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!