Banyak Gempa dan Letusan Gunung Api, Ada Apa?
USGS mencontohkan Mauna Loa di Hawaii. Sebelum erupsi 1984, terjadi peningkatan frekuensi gempa dangkal dan menengah selama sekitar tiga tahun. Frekuensi tersebut mencapai puncaknya dalam suatu swarm gempa pada September 1983, hampir enam bulan sebelum erupsi.
Kasus seperti itu menunjukkan mengapa pemantauan seismik sangat penting. Gempa dapat menjadi bagian dari “bahasa” yang digunakan para ahli untuk membaca perubahan di dalam gunung api.
Namun, hubungan gempa dan letusan tidak selalu berarti gempa besar akan menyebabkan gunung api meletus.
USGS menjelaskan bahwa gempa tektonik di sekitar gunung api memang dapat memicu erupsi dalam kondisi tertentu, tetapi gunung tersebut harus sudah berada dalam keadaan sangat siap atau “poised to erupt”. Dengan kata lain, gempa besar bukan tombol yang secara otomatis menyalakan gunung api.
Begitu pula dengan letusan gunung api. Satu gunung meletus tidak berarti gunung api lain di belahan dunia berbeda akan ikut meletus. Dalam beberapa kasus, letusan yang berdekatan dapat berkaitan dengan sistem magma yang sama, tetapi hal tersebut sangat bergantung pada kondisi geologi setempat.
Lalu, apakah banyak gempa dan letusan merupakan tanda Bumi sedang “berubah”?
Untuk menjawabnya, ilmuwan harus membedakan antara peningkatan aktivitas yang benar-benar terukur dan peningkatan jumlah laporan yang muncul karena sistem pemantauan semakin baik serta informasi semakin cepat menyebar.
Saat ini, jaringan seismometer mampu mendeteksi gempa-gempa yang sangat kecil yang mungkin tidak dirasakan manusia. Akibatnya, daftar gempa yang muncul dalam basis data modern dapat terlihat sangat panjang. Jika dibandingkan dengan catatan sejarah lama, angka tersebut tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung karena kemampuan deteksi pada masa lalu jauh lebih terbatas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!