Banyak Gempa dan Letusan Gunung Api, Ada Apa?

ED
PN
Sabtu, 12 September 2026 | 10:15 WIB
Bagikan
Banyak Gempa dan Letusan Gunung Api, Ada Apa?

VISI.NEWS — Rentetan gempa bumi dan aktivitas letusan gunung api yang terjadi di berbagai wilayah dunia kerap memunculkan pertanyaan: apakah Bumi sedang memasuki fase yang lebih aktif, atau ada perubahan besar yang sedang berlangsung di dalam perut planet?

Jawabannya tidak sesederhana jumlah kejadian yang terlihat dalam pemberitaan. Secara geologi, banyaknya gempa dan letusan gunung api pada waktu yang berdekatan pada dasarnya merupakan bagian dari dinamika normal planet yang terus bergerak. Namun, peningkatan aktivitas pada gunung api tertentu atau munculnya pola gempa yang tidak biasa di sekitar gunung tersebut memang dapat menjadi tanda penting yang harus dipantau.

Data jangka panjang menunjukkan bahwa gempa bumi merupakan fenomena yang sangat sering terjadi. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan rata-rata sekitar 16 gempa besar bermagnitudo 7 atau lebih terjadi setiap tahun berdasarkan catatan sejak sekitar 1900. Rata-rata tersebut mencakup sekitar 15 gempa M7 dan satu gempa M8 atau lebih dalam setahun. USGS juga mencatat bahwa jumlah gempa besar dapat berada di atas atau di bawah rata-rata dalam tahun tertentu tanpa berarti Bumi sedang mengalami perubahan fundamental.

Fenomena serupa berlaku pada gunung api. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat puluhan gunung api mengalami erupsi dalam suatu tahun. Dalam data 2026 yang tersedia hingga pembaruan 31 Maret, misalnya, tercatat 47 letusan terkonfirmasi pada 47 gunung api, dengan enam di antaranya merupakan erupsi baru yang dimulai pada tahun tersebut. Angka tersebut masih dapat berubah karena aktivitas vulkanik terus berlangsung dan data diperbarui. 

Artinya, melihat banyak gempa atau beberapa gunung api meletus dalam periode yang sama belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh planet sedang memasuki kondisi “luar biasa”.

Secara sederhana, penyebab utamanya adalah Bumi memang bukan benda yang diam. Lempeng tektonik terus bergerak, saling bertumbukan, menjauh, atau bergeser. Pergerakan tersebut membangun dan melepaskan tekanan di kerak Bumi sehingga menghasilkan gempa. Proses tektonik yang sama juga berkaitan erat dengan pembentukan dan aktivitas gunung api.

USGS menyebut lebih dari 80 persen gempa bumi dan gunung api dunia berada di sepanjang atau dekat batas lempeng tektonik. Kawasan Cincin Api Pasifik menjadi salah satu contoh paling jelas karena merupakan zona pertemuan berbagai lempeng dan menjadi wilayah paling aktif secara seismik serta vulkanik di dunia. 

Karena itu, apabila dalam satu periode muncul banyak laporan gempa dari Jepang, Indonesia, Alaska, Amerika Selatan, Pasifik, dan kawasan lainnya, hal tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya satu fenomena global yang menyebabkan semua gempa tersebut terjadi secara bersamaan. Sebagian besar kejadian berada pada sistem tektonik yang berbeda.

Hal yang jauh lebih penting adalah melihat pola lokal.

Gempa yang terjadi di sekitar gunung api, misalnya, dapat memiliki arti berbeda dibandingkan gempa tektonik biasa. Magma yang bergerak naik melalui rekahan di dalam kerak dapat menimbulkan perubahan tekanan dan memicu gempa-gempa kecil. USGS menjelaskan bahwa pergerakan magma dan fluida vulkanik dapat menghasilkan gempa ketika material tersebut bergerak menuju permukaan. 

Dalam kondisi tertentu, peningkatan gempa vulkanik dapat menjadi salah satu indikator bahwa sistem magma sebuah gunung sedang mengalami perubahan.

Para ahli biasanya tidak hanya melihat jumlah gempa. Mereka mengamati lokasi episentrum, kedalaman, jenis gempa, frekuensi, energi, perubahan deformasi tubuh gunung, emisi gas, suhu, serta perubahan aktivitas permukaan.

Pola menjadi sangat penting.

Jika gempa-gempa kecil semakin sering terjadi dan lokasi sumbernya bergerak atau terkonsentrasi pada bagian tertentu dari sistem gunung api, ilmuwan dapat menggunakannya sebagai salah satu petunjuk untuk memahami pergerakan magma. Namun, peningkatan gempa tidak otomatis berarti erupsi pasti akan terjadi.

USGS mencontohkan Mauna Loa di Hawaii. Sebelum erupsi 1984, terjadi peningkatan frekuensi gempa dangkal dan menengah selama sekitar tiga tahun. Frekuensi tersebut mencapai puncaknya dalam suatu swarm gempa pada September 1983, hampir enam bulan sebelum erupsi. 

Kasus seperti itu menunjukkan mengapa pemantauan seismik sangat penting. Gempa dapat menjadi bagian dari “bahasa” yang digunakan para ahli untuk membaca perubahan di dalam gunung api.

Namun, hubungan gempa dan letusan tidak selalu berarti gempa besar akan menyebabkan gunung api meletus.

USGS menjelaskan bahwa gempa tektonik di sekitar gunung api memang dapat memicu erupsi dalam kondisi tertentu, tetapi gunung tersebut harus sudah berada dalam keadaan sangat siap atau “poised to erupt”. Dengan kata lain, gempa besar bukan tombol yang secara otomatis menyalakan gunung api.

Begitu pula dengan letusan gunung api. Satu gunung meletus tidak berarti gunung api lain di belahan dunia berbeda akan ikut meletus. Dalam beberapa kasus, letusan yang berdekatan dapat berkaitan dengan sistem magma yang sama, tetapi hal tersebut sangat bergantung pada kondisi geologi setempat.

Lalu, apakah banyak gempa dan letusan merupakan tanda Bumi sedang “berubah”?

Untuk menjawabnya, ilmuwan harus membedakan antara peningkatan aktivitas yang benar-benar terukur dan peningkatan jumlah laporan yang muncul karena sistem pemantauan semakin baik serta informasi semakin cepat menyebar.

Saat ini, jaringan seismometer mampu mendeteksi gempa-gempa yang sangat kecil yang mungkin tidak dirasakan manusia. Akibatnya, daftar gempa yang muncul dalam basis data modern dapat terlihat sangat panjang. Jika dibandingkan dengan catatan sejarah lama, angka tersebut tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung karena kemampuan deteksi pada masa lalu jauh lebih terbatas.

Hal yang sama terjadi pada aktivitas gunung api. Pemantauan modern menggunakan seismometer, GPS, satelit, kamera, sensor gas, pengukuran deformasi, hingga pengamatan visual. Aktivitas yang dahulu mungkin tidak tercatat secara detail kini dapat dideteksi dan dianalisis hampir secara real time.

Karena itu, banyaknya berita tentang gempa tidak serta-merta berarti jumlah gempa besar meningkat drastis.

USGS sendiri menyatakan bahwa fluktuasi jumlah gempa besar dari tahun ke tahun merupakan hal yang normal. Dalam catatan 40–50 tahun terakhir, jumlah gempa besar memang beberapa kali melampaui rata-rata jangka panjang, tetapi fenomena tersebut belum berarti telah terjadi perubahan mendasar pada tingkat aktivitas gempa global.

Yang perlu mendapat perhatian lebih serius adalah ketika aktivitas meningkat secara konsisten di satu wilayah tertentu.

Misalnya, sebuah gunung api yang biasanya hanya mengalami beberapa gempa kecil tiba-tiba mengalami swarm gempa yang semakin sering, disertai gempa yang semakin dangkal, deformasi tubuh gunung, perubahan komposisi gas, dan peningkatan aktivitas permukaan. Kombinasi indikator semacam ini jauh lebih bermakna daripada sekadar melihat jumlah letusan gunung api di seluruh dunia.

Dalam ilmu kebumian, tidak ada satu indikator tunggal yang dapat memastikan kapan gunung api akan meletus.

Bahkan setelah berbagai tanda peringatan muncul, hasil akhirnya dapat berbeda. Aktivitas magma dapat berhenti, kembali stabil, atau berkembang menjadi erupsi. Karena itu, pemantauan dilakukan secara berlapis dan terus menerus.

Hal yang sama berlaku untuk gempa bumi. Ilmuwan saat ini belum memiliki metode yang dapat secara akurat mengatakan bahwa gempa besar akan terjadi pada tanggal tertentu, di lokasi tertentu, dengan magnitudo tertentu.

Itulah sebabnya masyarakat perlu berhati-hati terhadap narasi yang menghubungkan rentetan gempa dan letusan dengan prediksi bencana global, perubahan kutub, “Bumi sedang marah”, atau tanda bahwa gempa raksasa segera terjadi. Klaim seperti itu membutuhkan bukti ilmiah yang jauh lebih kuat daripada sekadar melihat beberapa kejadian yang terjadi berdekatan waktunya.

Ada pula pertanyaan mengenai perubahan iklim. Apakah pemanasan global membuat gempa dan letusan semakin sering?

Hubungan tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai penyebab utama gempa dan letusan global. Gempa tektonik terutama dikontrol oleh proses internal Bumi dan pergerakan lempeng. Gunung api juga terutama berkaitan dengan proses magma dan tektonik.

Namun, perubahan lingkungan tertentu memang dapat memengaruhi tekanan pada kerak secara lokal. Karena itu, para ilmuwan terus meneliti kemungkinan hubungan antara perubahan massa es, air, tekanan permukaan, dan aktivitas seismik di wilayah tertentu. Hal tersebut berbeda dengan klaim bahwa perubahan iklim secara langsung menyebabkan seluruh gempa bumi dan letusan gunung api di dunia.

Yang sudah jelas secara ilmiah adalah hubungan antara aktivitas vulkanik dan iklim berlangsung dua arah dalam konteks yang berbeda. Letusan gunung api besar dapat memengaruhi iklim karena memasukkan aerosol dan gas ke atmosfer. USGS mencatat letusan besar dapat menyebabkan pendinginan sementara pada suhu permukaan global, seperti yang terjadi setelah letusan Gunung Pinatubo pada 1991. 

Dari perspektif Indonesia, fenomena tersebut memiliki arti khusus.

Indonesia berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik dan merupakan bagian penting dari Cincin Api Pasifik. Karena itu, aktivitas gempa dan gunung api merupakan bagian dari kondisi geologi negara ini, bukan fenomena yang muncul tiba-tiba dalam beberapa tahun terakhir.

Banyaknya gempa dan letusan justru menunjukkan pentingnya sistem pemantauan dan kesiapsiagaan. Ketika aktivitas sebuah gunung berubah, data seismik, deformasi, gas vulkanik, dan pengamatan lapangan dapat membantu otoritas menentukan apakah status aktivitas perlu dinaikkan.

Kesimpulannya, banyaknya gempa bumi dan letusan gunung api tidak otomatis berarti Bumi sedang memasuki fase bencana global. Secara statistik, gempa dan erupsi merupakan bagian dari dinamika normal planet yang aktif secara geologis.

Yang menjadi sinyal penting bukan sekadar “berapa banyak” gempa atau letusan yang terjadi di seluruh dunia, melainkan di mana kejadian itu berlangsung, bagaimana polanya berubah, seberapa dalam sumbernya, apakah aktivitasnya berkaitan dengan sistem gunung api tertentu, serta apakah terdapat indikator lain yang bergerak bersamaan.

Dengan kata lain, yang harus diperhatikan bukan hanya jumlah kejadian, tetapi polanya.

Jika gempa-gempa kecil meningkat secara signifikan di bawah sebuah gunung api, pusat gempa bermigrasi, deformasi tubuh gunung bertambah, emisi gas berubah, dan aktivitas permukaan meningkat, kombinasi tanda tersebut jauh lebih penting bagi para ahli dibandingkan sekadar melihat bahwa “hari ini banyak gempa terjadi di dunia”.

Dan justru di situlah peran ilmu kebumian bekerja: bukan meramal kiamat dari banyaknya titik gempa di peta, melainkan membaca perubahan pola, mengukur risikonya, dan memberikan peringatan sedini mungkin kepada masyarakat.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.