Bagaimana AI Dapat Membantu Kita Menemukan Kepalsuan yang Mereka Buat
Oleh Giuseppe Riva (360info)
- Universitas Katolik Milan
Meskipun berita palsu bukanlah fenomena baru, namun penyebarannya saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Disinformasi lebih dari sekedar rekayasa berita yang dibuat-buat. Seringkali berisi materi asli yang digunakan di luar konteks atau konten yang dimanipulasi.
Meluasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) telah mempersulit tugas memverifikasi berita otentik, sehingga berkontribusi pada menurunnya kepercayaan terhadap jurnalis.
Trust Barometer tahun 2024 yang dilakukan Edelman, merupakan sebuah survei global (28 negara, lebih dari 32.000 responden) yang mengukur kepercayaan publik terhadap media, pemerintah, LSM, dan dunia usaha, menemukan bahwa jurnalis adalah profesi yang paling tidak dipercaya dengan 64 persen responden mengatakan bahwa mereka sengaja mencoba menyesatkan orang, dengan cerita yang mereka tahu salah, atau dengan menggunakan cerita yang dilebih-lebihkan.
Jika rasa tidak percaya tidak cukup buruk, ada juga persepsi luas bahwa chatbot berbasis model bahasa seperti ChatGPT-4 atau Gemini dapat membuat jurnalis ketinggalan zaman.
Misinformasi mengikis kepercayaan terhadap institusi, memperdalam perpecahan masyarakat, dan melemahkan pengambilan keputusan. Namun AI sendiri bisa menjadi penawar terhadap ciptaannya sendiri.
Sistem AI dapat memberikan penjelasan yang komprehensif namun mudah digunakan untuk mengklasifikasikan dan mendeteksi berita palsu.
AI sangat penting dalam mendeteksi disinformasi karena AI secara metodis menganalisis nuansa linguistik dan detail kontekstual yang mungkin diabaikan oleh moderator manusia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!