Alfin Habib Hidupkan Kembali "Cindai"
Dalam proses produksinya, Alfin berupaya menjaga keseimbangan antara sentuhan musik modern dengan unsur tradisional Melayu. Ia tetap mempertahankan cengkok vokal dan senandung khas Melayu agar identitas lagu tidak hilang meski dibalut aransemen baru.
"Saya tetap menghadirkan cengkok dan senandung khas Melayu agar esensi lagu legendaris ini tidak hilang," ujarnya.
Kemampuan Alfin sebagai musisi multi-instrumentalis turut menjadi modal penting dalam proses penggarapan lagu tersebut. Selain dikenal sebagai penyanyi, ia juga menguasai sejumlah alat musik seperti biola, akordeon, piano, saksofon, dan gitar.
Pengalaman memainkan berbagai instrumen itu membantunya memahami karakter musik Melayu secara lebih mendalam, termasuk ketika menentukan komposisi aransemen yang tetap menjaga identitas musikal "Cindai".
Sebelum merilis versi terbaru lagu tersebut, Alfin telah lebih dahulu dikenal melalui sejumlah karya seperti "Permaisuri Hatiku" dan "Hilang Saat Terang". Lagu-lagu tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penyanyi muda yang konsisten mengusung musik Melayu di industri musik Indonesia.
Karier Alfin mulai dikenal publik setelah mengikuti ajang pencarian bakat D'Academy musim ketiga. Penampilannya yang konsisten membawakan lagu-lagu bernuansa Melayu membuatnya mendapat julukan "Lord of Melayu" dari para penggemar.
Di tengah dominasi berbagai genre musik modern di platform digital, Alfin memilih tetap setia mengembangkan musik Melayu. Menurutnya, genre tersebut memiliki karakter yang kuat dan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
"Musik Melayu membentuk perjalanan karier saya sampai hari ini. Walaupun saya sering membawakan berbagai genre saat tampil, orang tetap mengenal saya lewat warna Melayu yang menjadi ciri khas saya," katanya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!