10 Pelukis Pamer Karya Bareng di TEKA Real Wood Flooring Gallery Tangerang

ED
Kamis, 24 Maret 2022 | 08:11 WIB
Bagikan
10 Pelukis Pamer Karya Bareng di TEKA Real Wood Flooring Gallery Tangerang

"Memang kedua karya tersebut memunculkan konflik kekuasaan dalam konteks yang berbeda, Amrus melukiskan konflik antara petani yang saat itu banyak berafiliasi pada gerakan sosialis - melawan tentara yang mewakili kekuasaan ketika itu. Sementara karya grafis Hardi mencerminkan suatu konflik juga – yaitu konflik antar generasi pada zamannya yang menginginkan adanya nafas kepemimpinan baru, dengan Suharto yang saat itu merupakan representasi dari tentara yang sedang berkuasa," paparnya. Dalam artikelnya yang diberi judul “Atom”, misalnya, Hardi menegaskan bahwa seniman dan seninya harus terlibat dalam persoalan masyarakat.

Namun dalam perjalanan waktu, kata Anna, Indonesia semakin membaik dari segi demokratisasinya, dan kepemimpinannya dinilai yang paling percaya diri dalam menghadapi persaingan perdagangan global, sehingga konflik antara rakyat dengan penguasa sudah jauh menurun dan kurang relevan untuk ditampilkan ke dalam lukisan.

Para seniman, ujarnya lebih lanjut, kemudian kembali kepada fitrahnya, yaitu melukis apa yang mereka sukai, sesuai dengan aspirasi pemikiran dan kondisi jiwanya yang dialami saat itu. Getar perasaan atau emosi pelukis menjadi subjek utama yang menghidupi kanvas-kanvas.

"Sikap, sifat dan emosi-emosi temporer ketika pelukis menghadapi dunia sekelilingnya menjadi modal utama di dalam penciptaan," ujarnya.

Dan alam realitas sekelilingnya, yang ditangkap secara kasat mata, katanya, hanyalah merupakan bagian yang memberikan simulasi, rangsangan dalam proses penciptaannya. Sehingga bentuk-bentuk bukanlah yang paling utama.

Dalam kanvas-kanvas pelukis senior Indonesia tahun 1970-an, bentuk-bentuk yang cenderung ke abstrak atau semi abstrak kelihatan dominan. Agus Dermawan T. , kata Anna, menamakan kecenderungan ini sebagai lirisisme, seperti yang terdapat pada  lukisan-lukisan Nashar, Zaini, dan Popo Iskandar.

"Lirisisme dapat terjadi sebagai arus balik setelah berakhirnya hiruk pikuk realisme sosialis pada awal tahun 1960-an yang mendominasi percaturan kesenian Indonesia ketika itu. Kecenderungan Orde Baru yang melakukan depolitisasi di semua aspek kehidupan masyarakat, telah membuat lirisisme berkembang biak. Seni kubisme dan abstrak dari Bandung school yang terepresi pada tahun 1950-an, kemudian muncul kembali ke permukaan di awal tahun 1970-an," jelasnya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.