10 Pelukis Pamer Karya Bareng di TEKA Real Wood Flooring Gallery Tangerang

ED
Kamis, 24 Maret 2022 | 08:11 WIB
Bagikan
10 Pelukis Pamer Karya Bareng di TEKA Real Wood Flooring Gallery Tangerang

VISI.NEWS | JAKARTA - Sepuluh pelukis modern dan kontemporer yang telah menorehkan sejarah dalam perkembangan senirupa Indonesia akan memamerkan hasil karyanya pada 26 Maret – 10 April 2022 di TEKA Real Wood Flooring Gallery Jl. Jalur Sutera Kav. 29B, No.36-37 Paku Alam, Alam Sutera, Tangerang Selatan. Ke-10 pelukis itu Syakieb Sungkar, Amrus Natalsya, KP Hardi Danuwijoyo, Nisan Kristiyanto, Erman Sadin, Sarnadi Adam, Indyra, Sukriyal Sadin, Chryshnanda Dwilaksana dan Revoluta S.

Baca juga

Syakieb Sungkar Tampilkan Karya Modern Art pada Pameran Lukisan ‘Art Kembang Kayu’ di Alam Sutera

Menurut kurator Anna Sungkar dari Art Kembang Kayu sebagian besar dari mereka lahir pada tahun 1950-an. KP Hardi Danuwijoyo (1951), Nisan Kristiyanto (1953), Erman Sadin (1953), Sarnadi Adam (1956), Indyra (1957), dan yang paling senior dalam pameran ini adalah Amrus Natalsya yang lahir pada tahun 1933. "Itulah yang menyebabkan terjadi pertemuan antara dua generasi: pelukis zaman Modern Art dengan pelukis pada zaman kontemporer," ungkap Anna, Kamis (24/3/2022).

Sementara sisanya lahir pada tahun 1960-an: Sukriyal Sadin (1961), Syakieb Sungkar (1962), Chryshnanda Dwilaksana (1967), dan yang termuda adalah Revoluta S (1975).

Mereka sejak muda sudah berkarya, Hardi, Nisan dan Sarnadi Adam, sebagai contoh, kata Anna sudah berpameran di umur 19 tahun. Chryshnanda lebih muda lagi, ia sudah berpameran di umur 14 tahun. Mereka rata-rata pelukis sekolahan – Amrus, Hardi, Erman, Nisan, Sarnadi, dan Indyra adalah jebolan STSRI- ASRI Yogyakarta, sedangkan Sukriyal Sadin dari Seni Rupa ITB.

Di masa lalu, ungkapnya, senirupa modern dan kontemporer jelas benar bedanya, dari segi gaya dan ide. Namun di masa sekarang, kita saat ini tidak melihat lagi perbedaan signifikan di antara keduanya. Sekedar ilustrasi, kata Anna, di zaman dahulu, kita dapat melihat betapa berbeda manifestasi seni antara Amrus dan Hardi. Amrus Natalsya menggambarkan konflik antara petani dengan tentara ketika ingin mempertahankan tanahnya dalam lukisan “Peristiwa Djengkol” ์ pada tahun 1961. Dan empat belas tahun kemudian, KP Hardi Danuwijoyo muncul dengan “Presiden R.I. Tahun 2001” ketika tampil dalam Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 1975.

"Memang kedua karya tersebut memunculkan konflik kekuasaan dalam konteks yang berbeda, Amrus melukiskan konflik antara petani yang saat itu banyak berafiliasi pada gerakan sosialis - melawan tentara yang mewakili kekuasaan ketika itu. Sementara karya grafis Hardi mencerminkan suatu konflik juga – yaitu konflik antar generasi pada zamannya yang menginginkan adanya nafas kepemimpinan baru, dengan Suharto yang saat itu merupakan representasi dari tentara yang sedang berkuasa," paparnya. Dalam artikelnya yang diberi judul “Atom”, misalnya, Hardi menegaskan bahwa seniman dan seninya harus terlibat dalam persoalan masyarakat.

Namun dalam perjalanan waktu, kata Anna, Indonesia semakin membaik dari segi demokratisasinya, dan kepemimpinannya dinilai yang paling percaya diri dalam menghadapi persaingan perdagangan global, sehingga konflik antara rakyat dengan penguasa sudah jauh menurun dan kurang relevan untuk ditampilkan ke dalam lukisan.

Para seniman, ujarnya lebih lanjut, kemudian kembali kepada fitrahnya, yaitu melukis apa yang mereka sukai, sesuai dengan aspirasi pemikiran dan kondisi jiwanya yang dialami saat itu. Getar perasaan atau emosi pelukis menjadi subjek utama yang menghidupi kanvas-kanvas.

"Sikap, sifat dan emosi-emosi temporer ketika pelukis menghadapi dunia sekelilingnya menjadi modal utama di dalam penciptaan," ujarnya.

Dan alam realitas sekelilingnya, yang ditangkap secara kasat mata, katanya, hanyalah merupakan bagian yang memberikan simulasi, rangsangan dalam proses penciptaannya. Sehingga bentuk-bentuk bukanlah yang paling utama.

Dalam kanvas-kanvas pelukis senior Indonesia tahun 1970-an, bentuk-bentuk yang cenderung ke abstrak atau semi abstrak kelihatan dominan. Agus Dermawan T. , kata Anna, menamakan kecenderungan ini sebagai lirisisme, seperti yang terdapat pada  lukisan-lukisan Nashar, Zaini, dan Popo Iskandar.

"Lirisisme dapat terjadi sebagai arus balik setelah berakhirnya hiruk pikuk realisme sosialis pada awal tahun 1960-an yang mendominasi percaturan kesenian Indonesia ketika itu. Kecenderungan Orde Baru yang melakukan depolitisasi di semua aspek kehidupan masyarakat, telah membuat lirisisme berkembang biak. Seni kubisme dan abstrak dari Bandung school yang terepresi pada tahun 1950-an, kemudian muncul kembali ke permukaan di awal tahun 1970-an," jelasnya.

Namun ada hal lain yang menyebabkan lirisisme tumbuh subur, yaitu berkembangnya pembangunan properti di perkotaan. Pembangunan tersebut dipacu oleh masuknya modal asing yang deras ke Indonesia diiringi dengan booming minyak bumi. Dengan itu nampaknya lukisan-lukisan dibutuhkan sebagai penghias dekorasi dari properti yang baru terbangun.

Hadiprana merupakan pelopor dalam memperkenalkan karya seni menjadi bagian dari interior rumah-rumah golongan menengah ke atas. Dan ia, katanya, dengan sadar memilih lukisan-lukisan bergaya lirisisme itu untuk menjadi elemen utama dalam menghias kantor dan perumahan baru tersebut. Kita kemudian menikmati booming senirupa yang pertama, berbarengan dengan mekarnya pembangunan di awal Orde Baru.

Sangat menarik, kali ini pameran 10 seniman yang diprakarsai oleh PT. Dharma Sumber Nusantara, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan, di mana sebagian lini produknya diarahkan ke bidang dekorasi interior yang berornamen kayu. Artinya, perusahaan ini menyadari bahwa karya seni menjadi padanan yang serasi ketika kita ingin memasarkan produk dekorasi ruangan. Hal ini mengingatkan kita pada apa yang telah dilakukan Hadiprana 50 tahun yang lalu.

"Dalam konteks tersebut, karya-karya para seniman ini sebagian besar - secara kebetulan - mengarahkan pemilihan karyanya yang berbau lirisisme. Tentu saja, banyak karya-karya di luar lirisisme yang cocok juga untuk dipadankan menjadi bagian elemen interior, semuanya sangat bergantung dari situasi dan preferensi para arsitek dan pemilik rumah," katanya.

Keberagaman pilihan juga diperhatikan dalam pameran ini, disesuaikan dengan luasnya selera pemirsa yang semakin hari semakin maju daya apresiasi seninya. Namun pada akhirnya karya-karya lukis yang dipamerkan akan terasa cocok dengan guratan-guratan kayu yang terdapat pada parket dan dinding kayu olahan di galeri Teka, Alam Sutera. Sehingga pameran ini kemudian dinamakan Kembang Kayu.

Kreatif Dimasa Pandemi

Direktur TEKA Parquet Muhammad Hamdani mengatakan, kondisi pandemi yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, merupakan tantangan yang tidak mudah bagi kita semua. Kita mendapatkan hikmah yang luar biasa dari kondisi ini yaitu herus terus dapat beradaptasi dengan perubahan yang sangat cepat. Salah satunya ide kreatif dan inovasi agar dapat bertahan serta menatap masa depan yang lebih baik.

"Setelah lebih dari 25 tahun PT. Tanjung Kreasi Parquet Industry subsidiary PT. Dharma Satya Nusantara, Tbk menghasilkan produk lantai kayu premium yang di ekspor ke lebih dari 44 negara, mulai tahun 2021 kami menghadirkan produk lantai premium kami bagi masyarakat Indonesia yang ditandai dengan pembukaan TEKA Wood Flooring Gallery pertama di Alam Sutera," ujarnya.

Baginya, lantai kayu bukan hanya sebuah produk melainkan sebuah karya dari keberagaman dan keunikan dari setiap pohon untuk menciptakan keindahan dari suatu ruangan. Melalui Pameran Art Kembang Kayu dengan melibatkan 10 seniman seni rupa Indonesia merupakan langkah awal kami dalam mengapresiasi ide kreatif para seniman Indonesia sekaligus untuk bentuk kolaborasi dengan para seniman Indonesia untuk memiliki alternatif baru memamerkan karyanya sekaligus memberikan ruang bagi kami untuk memperkenalkan TEKA kepada khalayak yang lebih luas.

"Besar harapan kami pameran ini mendapatkan sambutan baik dari masyarakat dengan menghadirkan alternatif untuk menikmati gabungan seni kontemporer dengan interior cantik dari lantai kayu, sehingga dapat meningkatkan minat untuk mencoba menerapkan kombinasi seni dan interior di rumah masing-masing," ungkapnya.

Sementara mantan anggota Dewan Pers Wina Armada Sukardi menambahkan bahwa teknologi telah mengubah cara dan gaya hidup di seluruh dunia. Salah satu akibat kemajuan teknokogi yang menonjol, antara lain, hadirnya konvergensi teknologi dan digitelisasi di semua aspek kehidupan dan penghidupan. Kehadiran artifisel intelegen (AI) menghasilkan gabungan satu barang dengan beribu fungsi. Selain itu interaksi sosial tak lagi harus berhubungan fisik secara langsung namun dapat melalui media sosial atau lewat komunikasi massa lainnya.

Rapat bisa dapat lewat zoom dengan berbagai fasilitas yang canggih. Lalu lintas komunikasi tidak lagi harus tatap muka. "Tukar informasi, debat, review, resensi, saran dan kritik dapat lewat media sosial. Dunia seni rupa juga gak mungkin menghindari dari kemajuan teknologi ini. Upaya menghadirkan eksisten diri, promosi karya seni rupa, termasuk menghadirkan karya-karya pribadi dapat melalui media sosial. Sementara transaksi karya lukis juga sudah dapat melalui digital. Perupa mau tidak mau dituntut untuk mampu mengikuti perubahaan ini. Saya lihat beberapa pelukis peserta pameran ini sudah mulai mengunakan sarana ini," ungkapnya.

Tetapi di luar itu, kata Wina Armada, karya lukis sebagai “DNA” dari pelukis sendiri tetap sangat perlu, dan bahkan menjadi faktor utama. Maksudnya karya-karya perupa menjadi wakil dari diri pembuatnya. Karya-karya yang kurang kuat, atau dibuat tidak dengan sepenuh jiwanya, bakal tercermin dari hasil alhir karya tersebut. “DNA” pelukisnya akan sangat kentara dari karya-karya itu.

"Nah, perkara “DNA” para perupa ini sangat penting, bukan saja dari aspek estetika karya itu sendiri, tetapi juga dari aspek marketing dan jejak rekam para perupa. Dalam hal ini perupa yang melahirkan DNA dirinya yang kuat, kemudian akan membentuk “brand” terhadap diri perupa, Baik di market maupun di kalangan pengamat atau kritikus seni, khusus kritikus seni rupa. Artinya DNA yang kuat dipandang sebagai representasi karya-karya perupanya yang kuat, atau istilah awam atau market merupakan karya “yang kuat.” Tegasnya, karya yang estetik, menarik dan seleble. “Brand” tidak lahir dalam sehari dua hari, bahkan “brand” juga tidak hanya hadir dari sebuah kemenangan lomba seni lukisan saja," paparnya.

Brand yang kuat lahir dari proses pergumulan panjang para pelukisnya, bahkan mungkin seumur hidup pulukisnya. Dengan kata lain, “brand” tak mungkin lahir secara instan, melainkan harus melalui proses. Pelukis yang baru memulai kariernya sebagai pelukis lantas ingin mememilik “brand” dari “DNA” yang kuat, hanyalah berminpi.

"Momentum boleh saja muncul, tapi jika tidak dirawat, dipelihara dan dikembangkan, akan segera menjadi peristiwa yang cepat dilupakan," pesan Wina.

Dalam relasi ini, pemanfaatan kemajuan teknologi yang tanpa diiringi dengan karya-karya memiliki brand kuat, tak memberikan banyak resonansi. Melihat daftar  para peserta pameran : Amrus Natalsya, KP Hardi Danuwijoyo, Nisan Kristiyanto, Erman Sadin, Sarnadi Adam, Indyra, Sukriyal Sadin, Syakieb Sungkar, Chryshnanda Dwilaksana, Revoluta S jelas sudah mulai menemukan DNA dan brand masimg-masing, meski ada yang brandnya masih dapat dioptimalkan. Peranan kurator Anna Sungkar memperjelas jejak DNA masing-masing. Maka pameran ini menjadi sarana yang saling melengkapi dengan penggunaan medium kemajuan teknologi.

"Dengan demikian, pameran ini bukan sekedar etalase karya-karya masing-masing perupanya, tetapi juga merupakan sebuah unjuk eksistensi brand dari DNA masing-masing peserta pameran," pungkasnya.@asa

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.