YKPA: Menyentuh Alam dan Kemanusiaan dengan Tangan Penuh Cinta
Ia memaparkan pengalamannya saat bencana gempa bumi di Yogyakarta meninggalkan keluarganya hanya dengan menitipkan uang Rp 13.000. "Kalau bukan karena pertolongan Alloh, selama tiga bulan meninggalkan keluarga, hanya dengan uang 13.000 rupiah, pasti bermasalah. Toh Alhamdulillah, keluarga saya baik-baik saja, istri saya juga demikian. Alloh mengurus dan menolong mereka," kata Kang Oji yang rutin menerjunkan relawannya setiap terjadi bencana di berbagai daerah di tanah air.
Latar Belakang Yayasan
Yayasan Komunitas Pecinta Alam atau YKPA, kata Kang Oji, berawal dari keprihatinan terhadap krisis kemanusiaan yang terus berkembang sejak akhir abad ke-20. Berbagai bencana alam—seperti tsunami di Aceh, banjir bandang, gempa bumi, hingga letusan gunung berapi—telah menggugah hati para pendiri YKPA untuk beraksi. Begitu pula dengan bencana sosial yang memengaruhi jutaan jiwa. Dari peristiwa tersebut, mereka merumuskan langkah-langkah konkret untuk mengurangi penderitaan dan memberikan pertolongan kepada sesama.
Salah satu langkah awal yang signifikan dalam sejarah YKPA adalah Gladian Pencinta Alam yang digelar di Cisanti Gunung Wayang, sebuah upaya yang menjadi titik awal lahirnya komunitas ini. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pelestarian alam, pendidikan, dan pemberdayaan korban bencana, YKPA terus mengembangkan jejaring kemanusiaannya melalui berbagai kegiatan yang turut serta membangun kembali kehidupan yang hancur akibat bencana.
Visi dan Misi YKPA
Visi Yayasan Komunitas Pecinta Alam adalah membangun masyarakat yang dapat memelihara lingkungan secara etis dan moral, sehingga menghasilkan lingkungan yang aman dan nyaman untuk dihuni. YKPA juga berfokus pada penyelenggaraan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana alam dan sosial, dengan mengutamakan prinsip nonpartisan, kejujuran, transparansi, dan profesionalisme.
Misi mereka mencakup beberapa aspek penting, yaitu:
1. Meningkatkan keberdayaan masyarakat melalui konservasi yang adil dan berkelanjutan. 2. Mengembangkan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan. 3. Melakukan identifikasi korban bencana alam dan sosial di seluruh Indonesia. 4. Menggalang partisipasi masyarakat di tingkat nasional dan internasional untuk membantu korban bencana. 5. Menjalankan aksi bantuan cepat untuk korban bencana alam dan sosial. 6. Melaksanakan program bantuan darurat dan pemulihan komunitas untuk menumbuhkan kembali kepercayaan dan kebersamaan. 7. Mengembangkan pembangunan komunitas partisipatif untuk meningkatkan kemandirian masyarakat setempat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!