WoDEF 2025: Eksploitasi Hewan Akuatik dan Krisis Lingkungan yang Terabaikan
Di sisi lain, budidaya ikan menghasilkan limbah dalam jumlah besar yang mencemari perairan, termasuk kotoran ikan, sisa pakan, dan bahan kimia beracun seperti antibiotik dan pestisida. Tambak udang dan ikan sering kali mengakibatkan kerusakan hutan bakau, yang berfungsi sebagai penyerap karbon alami dan habitat penting bagi keanekaragaman hayati pesisir.
WoDEF 2025: Saatnya Bertindak
Untuk memperingati WoDEF tahun ini, 190 organisasi di seluruh dunia mengadakan berbagai aksi untuk mengungkap dampak industri perikanan dan budidaya ikan. Di Indonesia, Animal Friends Jogja telah menyelenggarakan talk show bersama Love Jogja FM pada 26 Maret 2025 untuk membahas realitas di balik industri perikanan serta mengeksplorasi alternatif yang lebih etis dan berkelanjutan.
"Eksploitasi ikan melalui overfishing, terutama dengan metode tidak berkelanjutan seperti cantrang, menangkap ikan yang belum dewasa, merusak terumbu karang, dan mengganggu ekosistem pesisir Jawa. Akibatnya, populasi ikan menurun, bermigrasi, dan kehilangan habitat. Kerusakan terumbu karang serta berkurangnya spesies menghambat regenerasi ikan, mengancam keberlanjutan ekosistem laut, dan menciptakan "kiamat kecil" di perairan utara Jawa," ujar Wahyu Eka Styawan, Direktur WALHI Jawa Timur.
Menanggapi hal ini, Lilo Dwi Julianto, Pegiat Kesejahteraan Hewan dari Animal Friends Jogja, menekankan pentingnya kesadaran terhadap kesejahteraan hewan akuatik. "Saatnya industri dan pemerintah mengambil langkah nyata untuk menghentikan eksploitasi ikan dan memastikan praktik perikanan yang lebih etis. Tanpa regulasi yang ketat dan transisi ke sistem yang lebih berkelanjutan, kita hanya akan mempercepat krisis ekologis yang berdampak pada masyarakat luas." tutupnya dalam sesi talkshow.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!