Windi Septianingrum: Di Lembur Pakuan Belajar Hidup dari Masalah Orang Lain
VISI.NEWS | SUBANG - Windi Septianingrum dikenal sebagai salah satu petugas Pos Pengaduan Lembur Pakuan Kang Dedi Mulyadi (KDM) Subang yang sigap melayani berbagai keluhan masyarakat. Dengan gaya bicara lugas dan pendekatan yang hangat, Windi kerap menjadi orang pertama yang menyambut warga yang datang membawa persoalan hidup mereka.
Perempuan kelahiran, Majalengka, 8 September 2000 ini tumbuh dari keluarga sederhana. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, buah hati pasangan almarhum Juki Marzuki dan almarhumah Ida Nuryati. Latar belakang keluarga inilah yang membentuk empati Windi terhadap persoalan masyarakat kecil.
Pendidikan menengahnya ditempuh di SMKN 1 Majalengka, jurusan arsitektur. Meski kini tak bekerja di bidang yang linier dengan pendidikannya, bekal disiplin dan ketelitian dari dunia teknik ia rasakan sangat membantu dalam menata dan memeriksa berkas-berkas pengaduan warga.
Selepas SMK, Windi melanjutkan kuliah di Universitas Majalengka (Unma), Program Studi Manajemen. Di sela kuliah, ia sudah terbiasa bekerja demi menopang kebutuhan hidup dan menambah pengalaman.
Dunia kerja ia jalani dari bawah. Windi sempat bekerja di pabrik sepatu, hingga akhirnya harus menerima kenyataan pahit terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia kemudian mencoba peruntungan sebagai SPG di Toserba Yogya selama tiga bulan, sebelum kembali bekerja di pabrik sepatu.
Terjunnya ke Lembur Pakuan KDM, ia dapatkan saat adiknya bermasalah dengan PT Pos Indonesia di Majalengka. Dari sanalah, Windi mulai akrab dengan administrasi, dokumen, serta berbagai urusan masyarakat yang bersinggungan dengan layanan publik.
Kini, di Pos Pengaduan Lembur Pakuan KDM Subang, Windi berhadapan langsung dengan beragam cerita warga. Mulai dari persoalan kesehatan, pendidikan, bantuan sosial, hingga masalah perbankan dan kredit macet yang kerap membelit masyarakat kecil.
“Di sini saya jadi benar-benar tahu masalah orang, dan belajar hidup lebih baik dari masalah-masalah orang yang datang ke sini,” ujar Windi. Setiap aduan yang datang ia dengarkan dengan saksama, lalu dicatat dan diarahkan agar bisa segera ditindaklanjuti oleh tim terkait.
Dari sekian banyak laporan, Windi mengaku paling memprioritaskan persoalan kesehatan. Menurutnya, masalah kesehatan tidak bisa ditunda karena menyangkut keselamatan dan martabat hidup seseorang.
Ia pun kerap mewanti-wanti masyarakat yang datang ke pos pengaduan agar membawa dokumen lengkap. “Bawa berkasnya langsung. Kalau lengkap, bisa langsung ditangani,” ucapnya berulang kali kepada warga.
Windi yang memiliki tinggi badan 165 sentimeter dengan berat 55 kilogram ini lahir di kawasan Jalan Siti Armilah, Majalengka Kulon. Kesederhanaan hidupnya membuat ia mudah menyatu dengan warga dari berbagai latar belakang.
Bagi Windi, menjadi petugas pos pengaduan bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian. Ia percaya, dengan mendengar dan membantu satu per satu persoalan warga, negara bisa benar-benar hadir di tengah kehidupan masyarakat.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!