VISI | Tetangga dan Palestina
Oleh Aep S Abdullah
KHUTBAH jumat yang disampaikan Ustadz Ahmad Gozali di Mesjid Istiqomah RW-12, Komplek Perumahan Sanggar Indah Lestari, Desa Nagrak, Cangkuang, Kabupaten Bandung pada Jumat (27/10/2023) ini, menarik untuk saya simak.
Dibalik topik khutbahnya tentang Palestina, namun ada yang menyejukkan ketika dia mengatakan jangan sampai kita peduli pada nasib rakyat di Palestina, tapi nasib tetangga sendiri tidak diperhatikan. Kita bersimpati pada Palestina tapi antipati dengan tetangga karena perbedaan soal cara ibadah, perbedaan aqidah dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Memang sekarang ini tak jarang ditemui orang karena fanatisme berlebihan terhadap paham beragamanya, terhadap golongannya kerap menganggap golongan lain yang tidak se-"ikhwan" dianggap lawan. Bahkan dianggap "yahudi", dengan tidak mau berbaur. Mereka menganggap kelompoknya paling benar, dan menganggap kelompok lain ahli neraka, meski mereka sendiri tidak yakin bila mati kelak dijamin masuk surga.
Lalu kenapa sampai tidak bisa rileks berteman atau bersahabat dengan tetangga yang beda mazhab, beda paham, beda golongan dan beda agama. Bukankah perbedaan itu Sunatullah, dan yang akan abadi di dunia ini adalah perbedaan itu sendiri.
Bukankah lebih baik kita "menikmati" perbedaan itu untuk memperkaya khazanah berpikir kita sebagai ibrah, untuk menafakuri betapa maha besar dan maha luasnya ilmu yang Alloh miliki dengan menciptakan adanya perbedaan itu sendiri.
Bukankah Allah memerintahkan kepada kita untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan memahami apa yang telah diciptakannya.
Bukankah indah dan nikmatnya hidup dalam perbedaan yang bisa saling mengisi dan saling memahami.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!