VISI | Tetangga dan Palestina

ED
Jumat, 27 Oktober 2023 | 13:25 WIB
Bagikan
VISI | Tetangga dan Palestina

Oleh Aep S Abdullah

KHUTBAH jumat yang disampaikan Ustadz Ahmad Gozali di Mesjid Istiqomah RW-12, Komplek Perumahan Sanggar Indah Lestari, Desa Nagrak, Cangkuang, Kabupaten Bandung pada Jumat (27/10/2023) ini, menarik untuk saya simak.

Dibalik topik khutbahnya tentang Palestina, namun ada yang menyejukkan ketika dia mengatakan jangan sampai kita peduli pada nasib rakyat di Palestina, tapi nasib tetangga sendiri tidak diperhatikan. Kita bersimpati pada Palestina tapi antipati dengan tetangga karena perbedaan soal cara ibadah, perbedaan aqidah dan perbedaan-perbedaan lainnya.

Memang sekarang ini tak jarang ditemui orang karena fanatisme berlebihan terhadap paham beragamanya, terhadap golongannya kerap menganggap golongan lain yang tidak se-"ikhwan" dianggap lawan. Bahkan dianggap "yahudi", dengan tidak mau berbaur. Mereka menganggap kelompoknya paling benar, dan menganggap kelompok lain ahli neraka, meski mereka sendiri tidak yakin bila mati kelak dijamin masuk surga.

Lalu kenapa sampai tidak bisa rileks berteman atau bersahabat dengan tetangga yang beda mazhab, beda paham, beda golongan dan beda agama. Bukankah perbedaan itu Sunatullah, dan yang akan abadi di dunia ini adalah perbedaan itu sendiri.

Bukankah lebih baik kita "menikmati" perbedaan itu untuk memperkaya khazanah berpikir kita sebagai ibrah, untuk menafakuri betapa maha besar dan maha luasnya ilmu yang Alloh miliki dengan menciptakan adanya perbedaan itu sendiri.

Bukankah Allah memerintahkan kepada kita untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan memahami apa yang telah diciptakannya.

Bukankah indah dan nikmatnya hidup dalam perbedaan yang bisa saling mengisi dan saling memahami.

Kata K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, "Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, maka orang tidak pernah tanya apa agamamu".

Dalam QS Al Hujurat ayat 13 Alloh SWT berfirman,  "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa  dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".

Para founding father sadar betul bahwa tidak mungkin dengan 1.072 suku-suku derivative besar dan kecil yang berkembang di persada Nusantara untuk menjadikan mereka berfalsafah Islam (Pancasila Piagam Jakarta). Dari segi bahasa, terdapat ratusan bahasa yang digunakan diseluruh wilyah Indonesia , yang tersebar kedalam beribu-ribu pulau yang dihuni oleh masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke.  Begitupun dari segi agama terdapat sejumlah agama besar dunia dan sejumlah sistem kepercayaan lokal yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dengan jaringannya sampai luar negeri. Itu butuh untuk merawatnya dengan menikmati perbedaan itu.

Untuk merawat perbedaan itu, Al-Quran memberikan petunjuk kepada kita semua, yakni dengan mengamalkan prinsip as-syu’ub, yaitu menerima eksistensi dan perbedaan suku  bangsa lain sebagai anugerah rahmad dari Allah swt dan nahdhariyah al-nahdha, yaitu menerima eksistensi kemanusiaan. Bahwa manusia merupakan ciptaan Allah swt  yang memiliki kesamaan hak satu sama lain.

Dalam prinsip Al-Quran menghendaki umat manusia menerima perbedaan sebagai eksistensi kehidupan. Perbedaan adalah ciptaan Allah swt, dan semua ciptaan Allah adalah anugerah terindah untuk manusia dan makhluk lainnya. Ini menunjukkan bahwa kehidupan ini menjadi indah dengan perbedaan dan menjadi nyaman dengan kebersamaan.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.