VISI | Tangan Tuhan
Penulis teringat sebuah pernyataan yang sering dikutip dari Prof. Dr. Mahfud MD., bahwa ketika kekuasaan dijalankan secara zalim, pada akhirnya keadilan Tuhan akan bekerja dengan cara-Nya sendiri. Kalimat itu bukan ajakan untuk menyerah. Justru sebaliknya. Ia mengingatkan bahwa manusia tetap wajib berikhtiar menegakkan keadilan, memperbaiki keadaan, mendidik generasi muda, dan menjaga nurani, sembari menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah Sswt. Guru memahami pelajaran itu. Orang tua memahaminya. Banyak rakyat kecil juga memahaminya. Mereka tetap bekerja. Tetap mendidik anak-anaknya. Tetap berbuat baik. Tetap memanjatkan doa. Karena mereka percaya bahwa tidak ada doa yang sia-sia.
Sebagai praktisi hipnoterapi dan NLP, penulis sering mengatakan bahwa pikiran manusia akan lebih kuat ketika dipenuhi harapan daripada ketakutan. Ketakutan melumpuhkan. Harapan menggerakkan. Doa adalah bentuk harapan yang paling tulus. Doa bukan pelarian. Doa adalah energi batin yang membuat seseorang tetap mampu berdiri ketika keadaan tidak sesuai harapan. Doa membuat guru tetap sabar mengajar. Doa membuat orang tua tetap kuat membesarkan anak-anaknya. Doa membuat bangsa tetap memiliki alasan untuk bangkit.
Jika ada yang masih menjadi harapan negeri ini, salah satunya adalah ruang-ruang kelas. Di sanalah masih terdengar doa-doa yang dipanjatkan dengan polos. Di sanalah masih ada anak-anak yang bermimpi menjadi dokter, guru, ilmuwan, petani, insinyur, dan pemimpin yang jujur. Di sanalah masih ada guru-guru yang setiap pagi datang membawa keyakinan bahwa satu jam pelajaran dapat mengubah masa depan seseorang. Dan di sanalah penulis percaya bahwa tangan-tangan kecil yang terangkat saat berdoa memiliki kekuatan yang luar biasa. Bukan karena tangan itu ajaib. Melainkan karena tangan itu terangkat dengan hati yang bersih.
Pada akhirnya, sejarah selalu mengajarkan bahwa kekuasaan manusia memiliki batas. Jabatan berganti. Kedudukan berpindah. Tepuk tangan berhenti. Yang tetap tinggal hanyalah amal, ketulusan, dan jejak pengabdian. Karena itu, marilah kita terus bekerja dengan jujur, mendidik dengan kasih sayang, mengingatkan dengan santun, dan memperbaiki diri tanpa lelah. Sambil terus mengetuk pintu langit melalui doa. Sebab ketika seluruh ikhtiar telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, seorang mukmin percaya bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat menurut hikmah-Nya. Mungkin bukan dengan cara yang kita duga. Mungkin bukan pada waktu yang kita inginkan. Namun selalu dengan cara terbaik yang Dia kehendaki.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!