VISI | Tangan Tuhan

Desi Rossilawati
Selasa, 7 Juli 2026 | 11:24 WIB
Bagikan
VISI | Tangan Tuhan

Mengapa ibu? Karena Rasulullah saw., ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan bakti seorang anak, beliau menjawab, "Ibumu." Lalu ditanya lagi, beliau menjawab, "Ibumu." Ditanya lagi untuk ketiga kalinya, beliau tetap menjawab, "Ibumu." Barulah setelah itu beliau menyebut ayah. Pelajaran itu selalu menyentuh hati peserta didik. Mereka mulai memahami bahwa keberhasilan hidup tidak dimulai dari nilai rapor. Keberhasilan hidup dimulai dari keberkahan doa orang tua.

Semakin lama menjadi guru, penulis semakin yakin bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengisi kepala. Pendidikan juga harus menyentuh hati. Karena kepala yang cerdas tanpa hati yang jernih dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, hati yang jernih akan membimbing kecerdasan menuju kemaslahatan. Inilah yang dalam pendekatan hypnoteaching sering penulis lakukan. Anak-anak tidak hanya diajak berpikir. Mereka juga diajak merasakan. Merasakan syukur. Merasakan kasih sayang. Merasakan tanggung jawab. Dan merasakan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah swt.

Namun di luar ruang kelas, kenyataan sering kali menghadirkan kegelisahan. Setiap hari masyarakat disuguhi berbagai peristiwa yang memunculkan perdebatan, kekhawatiran, dan saling curiga. Di tengah situasi seperti itu, guru memiliki tugas yang tidak ringan. Guru harus tetap menanamkan harapan tanpa mengajarkan kepura-puraan. Guru harus tetap mengajarkan kejujuran meskipun kejujuran kadang tampak tidak mudah. Guru harus tetap mengajarkan keberanian menyampaikan pendapat dengan santun, sekaligus mengajarkan pentingnya menghormati hukum dan hak orang lain. Sebab pendidikan tidak boleh melahirkan generasi yang takut berpikir. Namun pendidikan juga tidak boleh melahirkan generasi yang kehilangan kebijaksanaan.

Dalam kehidupan berbangsa, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab merupakan bagian dari proses memperbaiki diri. Sebaliknya, setiap pemegang amanah juga memerlukan kebesaran hati untuk mendengar, mengevaluasi, dan memperbaiki bila memang ada kekeliruan. Bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang tidak pernah berbeda pendapat. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu berdialog tanpa kehilangan rasa saling menghormati. Di sinilah doa dan ikhtiar bertemu. Doa tanpa usaha akan menjadi harapan yang kosong. Sebaliknya, usaha tanpa kerendahan hati mudah berubah menjadi kesombongan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.