VISI | Tangan Tuhan
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
MASIH ingat peristiwa yang oleh dunia sepak bola dikenal sebagai "Hand of God" atau Tangan Tuhan?
Peristiwa itu terjadi pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko ketika Argentina menghadapi Inggris. Diego Maradona mencetak gol yang kemudian menjadi salah satu gol paling kontroversial sepanjang sejarah sepak bola. Bola yang mengenai tangan kirinya luput dari pengamatan wasit dan tetap disahkan sebagai gol. Seusai pertandingan, ungkapan "Hand of God" melekat pada peristiwa tersebut dan menjadi bagian dari sejarah sepak bola dunia.
Terlepas dari kontroversinya, istilah "Tangan Tuhan" selalu mengingatkan penulis pada sesuatu yang jauh lebih dalam. Bukan tentang sepak bola. Bukan pula tentang kemenangan. Melainkan tentang kesadaran manusia bahwa ada kekuasaan yang jauh lebih besar daripada seluruh kecerdasan, strategi, dan kekuatan yang dimiliki manusia. Sebagai guru, penulis justru sering menemukan makna "Tangan Tuhan" di ruang kelas.
Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul menjelang ujian. "Pak, kapan kita berdoa bersama lagi?"
Awalnya penulis mengira pertanyaan itu muncul karena mereka merasa takut menghadapi ujian. Ternyata bukan. Mereka merasakan sendiri bahwa doa bersama menghadirkan ketenangan. Mereka belajar bahwa belajar adalah ikhtiar. Sedangkan hasil akhirnya adalah ketetapan Allah Swt.
Di situlah pendidikan menemukan makna yang sesungguhnya. Anak-anak tidak hanya belajar menyelesaikan soal. Mereka belajar berserah diri. Belajar rendah hati. Belajar bahwa manusia memiliki batas. Sebagus apa pun persiapan, tetap ada ruang untuk memohon pertolongan kepada Sang Pencipta.
Sebelum setiap ujian, kami tidak hanya berdoa agar memperoleh nilai yang baik. Kami juga berdoa agar diberi hati yang jujur. Agar dijauhkan dari keinginan berbuat curang. Agar ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan hampir setiap doa itu selalu penulis tutup dengan satu permohonan yang sangat sederhana. "Ya Allah, jadikan anak-anak ini manusia yang mencintai ibunya."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!