VISI | Sya’ban: Menata Jiwa Menyongsong Zaman

ED
Kamis, 5 Februari 2026 | 04:57 WIB
Bagikan
VISI | Sya’ban: Menata Jiwa Menyongsong Zaman
  • ”Spirit Sya’ban mengajak manusia modern menata jiwa, memperkuat iman, dan menyiapkan diri menyambut Ramadan di tengah ritme hidup yang cepat”.

Oleh A. Rusdiana

  • Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat
  • Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
  • Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung
  • Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan 

TANGGAL 1 Sya’ban selalu menjadi penanda penting dalam kalender ruhani umat Islam. Ia bukan sekadar pergantian bulan Hijriah, melainkan fase persiapan batin menuju Ramadan bulan pengangkatan amal, introspeksi, dan pembenahan niat. Momentum ini kian bermakna ketika beririsan dengan Isra Mi’raj 1447 H, peristiwa yang menegaskan bahwa kemuliaan manusia dicapai melalui ketaatan, kesucian jiwa, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Pada 1447 H, Sya’ban diperkirakan dimulai Selasa, 20 Januari 2026, dengan malam 1 Sya’ban sejak Senin petang, 19 Januari 2026. Rujukan kalender Hijriah yang digunakan luas di Indonesia memberi kepastian awal bagi masyarakat menyiapkan agenda ibadah, sembari menunggu penetapan resmi melalui rukyatul hilal. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW memperbanyak ibadah terutama puasa sunah pada bulan ini, yang juga dikenal sebagai bulan diangkatnya amal manusia.

Makna Sya’ban bagi Kehidupan Modern

Di tengah ritme hidup yang cepat dan sarat distraksi, Sya’ban menghadirkan ruang jeda untuk menata ulang prioritas. Dari perspektif pendidikan, hal ini sejalan dengan gagasan pendidikan holistik mengembangkan nalar, sikap, dan tindakan secara seimbang. John Dewey menekankan pentingnya refleksi sebagai inti pembelajaran bermakna; manusia belajar terbaik ketika pengalaman ditafsirkan ulang secara sadar. Sya’ban melatih refleksi itu: menguji niat, merapikan amal, dan menumbuhkan disiplin diri.

Al-Qur’an menegaskan, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syams: 9). Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian” (HR. Muslim). Dua landasan ini menggeser ukuran keberhasilan dari semata capaian lahiriah menuju kualitas batin dan konsistensi amal sebuah koreksi penting bagi budaya pencitraan.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.