VISI | Sudah Duduk Lupa Berdiri
Di sinilah letak ujian terbesar seorang pemimpin: apakah ia memandang kekuasaan sebagai amanah atau kesempatan? Jika sebagai amanah, maka ia akan berhati-hati. Ia sadar setiap kebijakan menyentuh hidup orang banyak. Ia mempertimbangkan dampak jangka panjang. Ia berani mengatakan tidak pada kepentingan sempit.
Namun jika kekuasaan dianggap kesempatan kesempatan memperkaya diri, keluarga, atau kolega maka arah bangsa perlahan menyimpang. Rakyat kecil menjadi penonton. Kepentingan umum tergeser oleh kepentingan kelompok. Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang sadar bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh hukum manusia, tetapi juga oleh hukum Tuhan.
Sebagai praktisi pendidikan, penulis percaya bahwa perubahan selalu mungkin. Tidak ada manusia yang sepenuhnya kebal terhadap kesadaran. Bahkan pemimpin pun bisa berubah jika ia mau merenung. Langkah pertama adalah keberanian untuk berdiri kembali. Berdiri untuk: Mengingat janji, mendengar suara yang berbeda, membuka ruang dialog, serta mengakui kekeliruan jika ada.
Kepemimpinan yang kuat bukan yang antikritik, melainkan yang adaptif dan terbuka. Di sekolah, kami mengajarkan pentingnya refleksi. Setiap akhir pelajaran, siswa diminta mengevaluasi apa yang sudah dipelajari. Mengapa prinsip sederhana ini tidak diterapkan dalam kepemimpinan nasional?
Sudah duduk memang nyaman. Namun duduk tanpa kesadaran hanya akan membuat lupa berdiri. Lupa bahwa kursi itu amanah. Lupa bahwa rakyat adalah tujuan, bukan alat. Lupa bahwa waktu terus berjalan. Suatu hari, semua kursi akan ditinggalkan. Semua jabatan akan berakhir. Yang tersisa hanyalah cerita: apakah ia pemimpin yang amanah atau yang abai?
Negeri ini masih punya harapan. Tetapi harapan itu memerlukan pemimpin yang mau berdiri kembali—berdiri di atas nilai, berdiri bersama rakyat, berdiri di hadapan nuraninya sendiri. Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat seberapa lama seseorang duduk di kursi kekuasaan. Sejarah mencatat bagaimana ia menggunakan kursi itu untuk kebaikan atau sebaliknya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!