Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026 VISI | Maulid Nabi: Peringatan atau Keteladanan? 25 Aug 2026 Bandung Great Sale 2026 Diserbu Pengunjung, Transaksi Terus Dihitung 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026 VISI | Maulid Nabi: Peringatan atau Keteladanan? 25 Aug 2026 Bandung Great Sale 2026 Diserbu Pengunjung, Transaksi Terus Dihitung 25 Aug 2026

VISI | Sudah Duduk Lupa Berdiri

Desi Rossilawati
Jumat, 27 Februari 2026 | 07:38 WIB
Bagikan
VISI | Sudah Duduk Lupa Berdiri

Di sinilah letak ujian terbesar seorang pemimpin: apakah ia memandang kekuasaan sebagai amanah atau kesempatan? Jika sebagai amanah, maka ia akan berhati-hati. Ia sadar setiap kebijakan menyentuh hidup orang banyak. Ia mempertimbangkan dampak jangka panjang. Ia berani mengatakan tidak pada kepentingan sempit.

Namun jika kekuasaan dianggap kesempatan kesempatan memperkaya diri, keluarga, atau kolega maka arah bangsa perlahan menyimpang. Rakyat kecil menjadi penonton. Kepentingan umum tergeser oleh kepentingan kelompok. Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang sadar bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh hukum manusia, tetapi juga oleh hukum Tuhan.

Sebagai praktisi pendidikan, penulis percaya bahwa perubahan selalu mungkin. Tidak ada manusia yang sepenuhnya kebal terhadap kesadaran. Bahkan pemimpin pun bisa berubah jika ia mau merenung. Langkah pertama adalah keberanian untuk berdiri kembali. Berdiri untuk: Mengingat janji, mendengar suara yang berbeda, membuka ruang dialog, serta mengakui kekeliruan jika ada.

Kepemimpinan yang kuat bukan yang antikritik, melainkan yang adaptif dan terbuka. Di sekolah, kami mengajarkan pentingnya refleksi. Setiap akhir pelajaran, siswa diminta mengevaluasi apa yang sudah dipelajari. Mengapa prinsip sederhana ini tidak diterapkan dalam kepemimpinan nasional?

Sudah duduk memang nyaman. Namun duduk tanpa kesadaran hanya akan membuat lupa berdiri. Lupa bahwa kursi itu amanah. Lupa bahwa rakyat adalah tujuan, bukan alat. Lupa bahwa waktu terus berjalan. Suatu hari, semua kursi akan ditinggalkan. Semua jabatan akan berakhir. Yang tersisa hanyalah cerita: apakah ia pemimpin yang amanah atau yang abai?

Negeri ini masih punya harapan. Tetapi harapan itu memerlukan pemimpin yang mau berdiri kembali—berdiri di atas nilai, berdiri bersama rakyat, berdiri di hadapan nuraninya sendiri. Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat seberapa lama seseorang duduk di kursi kekuasaan. Sejarah mencatat bagaimana ia menggunakan kursi itu untuk kebaikan atau sebaliknya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.