VISI | Sekolah Vampir
Jika satu orang yang memiliki kuasa melakukan praktik zalim atau koruptif, lalu perilaku itu ditoleransi, ditiru, atau bahkan dianggap wajar, maka ia akan menyebar seperti pola vampir tadi. Satu orang menyalahgunakan jabatan. Dua orang ikut. Empat orang menormalisasi. Delapan orang membela. Enam belas orang menikmati. Dalam waktu singkat, sistem yang seharusnya sehat berubah menjadi ekosistem vampir.
Bahaya terbesar bukan pada satu vampir, melainkan pada normalisasi vampirisme. Ketika ketamakan dianggap biasa. Ketika kejujuran dianggap lugu. Ketika integritas dianggap kelemahan. Maka kita tidak lagi sedang menghadapi individu bermasalah, tetapi budaya yang terinfeksi.
Di sekolah, kita mengajarkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati. Kita berbicara tentang malaikat kebaikan—simbol moralitas dan cahaya. Namun anak-anak bukan hanya belajar dari buku. Mereka belajar dari realitas. Bagaimana guru menjelaskan kejujuran jika ketidakjujuran terlihat tak tersentuh? Bagaimana menjelaskan kerja keras jika ketamakan tampak lebih cepat kaya?
Inilah kebingungan moral yang sedang kita hadapi. Pendidikan berdiri di antara dua dunia: dunia ideal yang diajarkan di kelas, dan dunia nyata yang sering bertolak belakang. Jika dibiarkan, peserta didik akan mengalami disonansi: antara nilai yang diajarkan dan kenyataan yang disaksikan.
Sekolah Vampir
Izinkan penulis berandai-andai: bagaimana jika ada “Sekolah Vampir”? Sekolah ini bukan untuk mengajarkan cara mengisap darah, tetapi tempat rehabilitasi moral. Tempat di mana para vampir para koruptor, para pemimpin yang lupa nurani dididik kembali menjadi manusia.
Apa kurikulumnya? Pertama, Matematika Pertumbuhan Dosa: Menghitung bagaimana satu kebohongan melahirkan seribu kebohongan lain. Kedua, Fisika Tanggung Jawab: Setiap aksi memiliki reaksi. Setiap keputusan publik memiliki konsekuensi sosial. Ketiga, Biologi Empati: Memahami bahwa di balik angka statistik ada manusia nyata yang terluka.
Keempat, Sejarah Kejatuhan Kekuasaan: Mempelajari bahwa setiap kekuasaan tanpa moral pada akhirnya runtuh. Dan kelima, Praktikum Kejujuran: Latihan hidup sederhana, transparan, dan akuntabel.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!