VISI | Sekolah Adab
Sekolah adab bukan dimulai dari gedung megah atau anggaran besar. Ia dimulai dari para pendidik yang menjadikan dirinya sebagai contoh. Dari kepala sekolah yang tidak merasa lebih tinggi dari guru. Dari guru yang menghormati murid sebagai manusia utuh. Dari sistem yang tidak mengukur segalanya dengan nilai dan angka.
Pemerintah harus mulai serius memasukkan pendidikan adab sebagai program nasional. Bukan hanya sebagai jargon, tapi dijalankan secara sistematis. Modul adab bisa dimasukkan dalam mata pelajaran yang terintegrasi: dari Bahasa Indonesia, Sejarah, hingga Matematika. Tapi yang lebih penting, semua pemimpin pendidikan harus menjadi wajah dari adab itu sendiri.
Kita tidak bisa mengharapkan anak-anak tumbuh beradab jika guru mereka tidak menunjukkan adab. Kita tak bisa berharap masyarakat menghormati hukum jika para pemimpinnya menghina keadilan. Adab tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata. Ia harus menjadi gaya hidup seluruh ekosistem pendidikan.
Sungguh mengerikan jika bangsa ini terus melahirkan generasi yang cerdas, tapi tidak beradab. Yang pintar berdiplomasi, tapi senang merendahkan. Yang fasih berbahasa Inggris, tapi gemar menipu. Yang menguasai teknologi, tapi tidak mampu menghormati sesama.
Kita tidak sedang kekurangan orang pandai. Tapi kita sedang kelimpahan orang pandai yang tidak tahu diri. Maka solusi dari semua ini hanya satu: kembalikan adab sebagai panglima. Mari kita dirikan sekolah adab, secara nyata, mulai dari ruang kelas terkecil hingga kementerian tertinggi. Karena tanpa adab, ilmu hanyalah alat. Dan tanpa adab, kekuasaan hanya akan melahirkan arogansi. Sekolah adab bukan utopia. Ia adalah kebutuhan. Dan kita harus bergerak sebelum semuanya terlambat.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!