VISI | Sadio Mané dan Administrasi Publik: Ketika Pesepak Bola Membangun Desa
Bagi Indonesia termasuk Jawa Barat dengan ribuan desa kisah ini menyimpan pelajaran penting. Kita memiliki kerangka kebijakan, dana desa, dan perangkat kelembagaan yang relatif lengkap. Namun, persoalan mendasarnya sering kali sama: pembangunan terasa jauh dari denyut kehidupan warga. Program ada, tetapi makna sosialnya kerap tipis. Administrasi publik terjebak pada kepatuhan prosedural, bukan kepekaan sosial.
UNDP (1997) mengingatkan bahwa good governance tidak diukur dari seberapa rapi dokumen kebijakan, melainkan dari sejauh mana negara mampu menjamin partisipasi, keadilan, dan efektivitas pelayanan. Dalam konteks ini, Mané justru menghadirkan ironi: seorang atlet mampu menunjukkan praktik tata kelola yang responsif, sementara institusi publik sering kali tertinggal oleh rutinitas birokrasi.
Tentu, negara tidak bisa digantikan oleh individu. Namun negara dapat dan seharusnya belajar. Belajar bahwa pembangunan desa bukan semata urusan anggaran, melainkan soal orientasi nilai. Belajar bahwa keberpihakan pada warga kecil tidak selalu lahir dari regulasi baru, tetapi dari keberanian untuk mendengar dan bertindak.
Di sinilah administrasi publik diuji. Apakah ia sekadar menjadi mesin prosedur, atau benar-benar hadir sebagai instrumen kemanusiaan. Kisah Sadio Mané mengingatkan kita bahwa pembangunan sejati tidak selalu dimulai dari kantor pemerintahan, melainkan dari nurani yang masih peka.
Dan mungkin, justru dari sebuah desa kecil di Afrika itu, kita perlu bercermin: jika seorang pesepak bola bisa membangun desanya dengan empati dan keberanian moral, maka sudah semestinya institusi public dengan segala kewenangan dan sumber dayanya mampu melakukan hal yang sama, atau setidaknya tidak lupa pada tujuan awalnya: melayani manusia.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!