VISI | Rumah Kita Sendiri
Oleh Drajat
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- Guru, serta APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu pertanyaan lugu dari seorang peserta didik yang tak sengaja membuka ruang renung yang dalam. Suatu hari, di sebuah kelas pagi yang riuh namun hangat, seorang anak bertanya, “Pak, kalau kita membersihkan rumah, kok rasanya tidak pernah beres-beres?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi seperti mengetuk pintu benak yang selama ini tertutup rapat. Sebelum menjawab, saya tersenyum. Lalu saya balik bertanya, “Coba lihat atap rumah kalian. Dibersihkan juga atau tidak?”
Kelas mendadak hening. Seorang anak menunduk sedikit sambil bergumam, “Iya, ya… sebersih apa pun rumah kita, kalau atapnya nggak dibersihin ya tetap kotor.”
Kalimat polos itu membuat saya tertegun. Betapa sering kita sibuk menyapu lantai, merapikan kamar, mengelap perabotan, tetapi lupa bahwa debu paling tebal justru datang dari atas. Bahwa sumber kekotoran bukan di bawah—melainkan di tempat yang jarang kita lihat, jarang kita sentuh, bahkan jarang kita curigai.
Filosofis sederhana ini sebetulnya menyingkap persoalan besar negeri ini. Negara kita kaya raya, tetapi sering menangis karena ulah para pemimpin dan lingkarannya. Bukan karena rakyatnya malas, bukan karena alamnya miskin, tetapi karena “atapnya” kotor—dan dibiarkan begitu saja.
Atap Rumah Tak Pernah Dibersihkan
Dalam kehidupan bernegara, “atap” adalah para pemimpin: pemimpin pusat, pemimpin daerah, pemimpin lembaga, pemimpin institusi pendidikan, hingga pemimpin di rumah tangga kita. Sebersih apa pun kita merapikan ruang tamu bangsa—memperbaiki kurikulum, menata anggaran, menegakkan aturan—kalau atapnya bocor, kotor, andil karena keserakahan, maka lantai akan tetap basah dan dinding tetap berjamur.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!