VISI | Rumah Kita Sendiri

ED
Senin, 15 Desember 2025 | 04:10 WIB
Bagikan
VISI | Rumah Kita Sendiri

Hari ini, bangsa ini seperti rumah besar yang lantainya tiap hari disapu oleh rakyatnya, tetapi atapnya sengaja dibiarkan penuh lumut, sarang penyamun, dan karat kekuasaan. Kita bangga menciptakan istilah “Indonesia Emas 2045,” tetapi lupa mengecek apakah genting-genting rumah itu masih kuat menahan hujan keserakahan, angin kebohongan, dan badai penyalahgunaan amanah.

Upaya membersihkan rumah tidak akan pernah berhasil jika tempat paling tinggi tidak disentuh. Negeri ini menangis bukan karena rakyatnya tidak bekerja keras, tetapi karena atap dikuasai mereka yang lupa bahwa kekuasaan bukan warisan, bukan takhta abadi, dan bukan tiket untuk memanen kekayaan. Betapa banyak pemimpin yang lupa bahwa ketika mati, kosong, yang dibawa hanya amal, bukan aset.

Indonesia ibarat rumah megah dengan halaman luas, penuh pohon buah dan sungai jernih. Tetapi entah sejak kapan, rumah ini seperti tak pernah selesai dibersihkan.

Kita selalu sibuk mengepel, menyapu, atau menambal dinding, tetapi kotoran yang jatuh dari atap tak pernah berhenti.Kaya tambang, tetapi bencana ekologis mengancam. Kaya sumber daya laut, tetapi nelayan hidup pas-pasan. Kaya tanah subur, tetapi petani menjerit harga tak menentu. Kaya anak muda cerdas, tetapi ruang untuk mereka terlalu sempit. Kaya energi matahari, tetapi impor energi begitu besar.

Persoalannya bukan pada kekayaan—melainkan pada pengelolanya. Atapnya tidak bersih.

Dalam dunia pendidikan pun sama. Kita sibuk memperbarui kurikulum, membuat pelatihan, menciptakan proyek perubahan, menerbitkan regulasi baru, tetapi lupa menata “atap pendidikan” itu sendiri: pemimpin-pemimpin yang mengurusnya. Kita lupa memeriksa rekam jejak digital mereka, lupa mencari apakah rekam langkahnya jelas atau penuh coretan, lupa menilai apakah ia pernah menyejukkan suasana pendidikan atau justru membakarnya.

Bagaimana rumah pendidikan mau rapi, jika atapnya keropos? Bagaimana guru mau nyaman, jika pemimpinnya tak paham dunia yang dipimpinnya? Bagaimana anak didik mau percaya, jika pemimpin pendidikannya sendiri tidak layak dipercaya?

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.