VISI | Reformasi dan Ilusi Demokrasi
Kita butuh pembenahan menyeluruh, mulai dari reformasi partai politik, penguatan peran masyarakat sipil, independensi lembaga penegak hukum, hingga perlindungan terhadap pers. Demokrasi sejati tidak mungkin tumbuh di tanah yang becek oleh ketakutan dan ketidakpastian hukum.
Perubahan juga perlu didorong dari kesadaran kolektif masyarakat. Demokrasi bukan hanya milik elite, tapi milik semua. Ketika publik teredukasi, kritis, dan berani menyuarakan pendapat, maka tekanan terhadap kekuasaan untuk berubah akan semakin kuat. Tapi selama publik dibiarkan apatis, maka demokrasi kamuflatif ini akan terus dipertahankan.
Reformasi tak boleh kita biarkan menjadi proyek gagal. Ia harus terus diperjuangkan dengan semangat yang sama seperti 1998, namun dengan strategi dan kesadaran baru. Demokrasi tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dijaga, dikritisi, dan dipertahankan setiap hari.
Dan pada akhirnya, kita harus selalu waspada terhadap demokrasi yang hanya indah di permukaan. Karena demokrasi tanpa hukum yang adil, tanpa media yang bebas, dan tanpa partisipasi publik yang aktif hanyalah topeng. Reformasi tanpa ruh demokrasi hanyalah perubahan kosmetik yang tak menyentuh akar.
Jangan biarkan perjuangan para reformis hanya tinggal dalam buku sejarah. Kini giliran kita yang harus bertanya: apakah kita akan terus membiarkan demokrasi ini menjadi kamuflase, ataukah kita berani memperjuangkannya kembali, agar bangsa ini benar-benar berpijak di atas keadilan, kebebasan, dan kebenaran?. ***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!