VISI | Politik Kita dalam Ruang Gelap
Oleh Aep S. Abdullah
BEBERAPA hari terakhir, dunia politik kita seakan memasuki ruang gelap yang penuh sesak dengan suara amarah. Di tengah rakyat yang bergulat untuk bisa bertahan hidup, mencari kerja yang sulit, biaya sekolah anak, dan jerat cicilan, sebagian anggota DPR justru menampilkan wajah yang kontras. Alih-alih menunjukkan empati, mereka bertingkah seakan mengolok-ngolok penderitaan rakyat.
Betapa getirnya melihat wakil rakyat yang gajinya lebih dari 20 kali lipat upah minimum, malah sibuk flexing pendapatan, berjoget di panggung resmi, atau melontarkan ucapan yang menyayat hati. Dalam logika publik, itu bukan sekadar kelalaian, melainkan pengkhianatan terhadap kepercayaan. Dari situlah bara kecil berubah menjadi api yang membesar.
Tak heran bila gelombang massa akhirnya meluap. Gedung DPR RI digeruduk. Kantor-kantor dewan di berbagai daerah turut menjadi sasaran. Rumah-rumah anggota DPR Ahmad Sahroni, Eko Patrio, hingga Uya Kuya, didatangi massa, dijarah, dan dirusak. Sebuah tragedi demokrasi yang seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak.
Barangkali dalam konteks politik kita, rakyat melihat wakil-wakilnya sebagai musuh simbolik atas kesenjangan, ketidakadilan, dan arogansi yang terus dipertontonkan.
Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche berkata, “Seorang penulis yang baik tidak hanya memiliki jiwanya sendiri, tetapi juga jiwa teman-temannya.” Dengan kutipan ini, ia menyiratkan bahwa seorang penulis yang baik lebih suka dipahami daripada dikagumi. Barangkali demikian pula seharusnya wakil rakyat: bukan hanya membawa kepentingannya sendiri, melainkan juga membawa jiwa, suara, dan penderitaan rakyat yang diwakilinya.
Tapi tentu, penjarahan bukanlah jalan yang benar. Ia hanya gejala dari sebuah penyakit sosial yang lebih dalam: hilangnya jembatan komunikasi antara rakyat dan elite. Ketika lidah sebagian anggota dewan lebih sering melukai ketimbang menghibur, jarak psikologis itu semakin melebar. Rakyat merasa tak punya wakil, dan wakil merasa punya kuasa tanpa batas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!