VISI | Politik Kita dalam Ruang Gelap
Pelajaran terpenting dari peristiwa ini adalah soal empati. Anggota DPR harus berani keluar dari zona nyaman hedonis dan merasakan derita rakyat. Mereka harus ingat, gaji dan tunjangan yang mereka terima bukan hadiah dari langit, melainkan hasil keringat buruh, petani, nelayan, pedagang kecil, dan jutaan rakyat lain yang saban hari berjuang untuk hidup.
Jika paradigma kerja mereka tetap untuk kepentingan penguasa, pengusaha atau pesanan, maka rakyat akan terus menjauh. Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset Koruptor, yang seharusnya menjadi payung hukum penting, contohnya, tak kunjung diselesaikan. Conflict of interest menjadi batu besar yang menghalangi.
Lebih jauh, fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan yang melekat pada DPR kehilangan makna. Publik melihat, sebagian besar dewan hanya aktif ketika urusan honorarium, proyek, atau kepentingan kelompok politiknya sedang dipertaruhkan. Sisanya, senyap tanpa karya.
Kini pertanyaannya, ke mana bandul politik ini akan bergerak? Ada yang menyebut ke Solo, dengan segala simbol politik nasionalis yang tengah dikembangkan. Ada pula yang menunjuk ke Petamburan, simbol politik yang kerap lahir dari arus bawah dan emosi kolektif umat. Atau ke arah lainnya. Tentu kita tunggu.
Kutub-kutub itu sedang menjadi sorotan. Karena sama-sama punya daya magnet kuat, dan sama-sama berpotensi menjadi penyalur kemarahan publik. Namun, seperti hukum besi dalam politik, selalu ada pihak luar yang ikut menunggangi.
AM Hendropriyono, mantan Kepala BIN, dengan lugas mengingatkan bahwa gejolak ini bukan murni lahir dari dalam. Ia mengatakan sudah mendeteksi kepentingan asing yang menunggangi anak bangsa untuk mengguncang panggung politik Indonesia. Tentu kita berharap ia bisa membuka lebih gamblang siapa penunggangnya.
Artinya, rakyat yang marah bisa saja sedang diprovokasi untuk mengarah ke jalur yang lebih destruktif. Dan inilah bahaya paling besar: energi amarah rakyat bisa digunakan sebagai bahan bakar oleh mereka yang punya agenda tersembunyi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!