VISI | Pemantik Demo
Namun, yang tampak saat ini justru DPR lebih sering berpihak pada penguasa ketimbang pada rakyat. Banyak undang-undang yang disahkan lebih menguntungkan investor dan kelompok elite ketimbang masyarakat kecil. Dari Omnibus Law hingga revisi UU KPK, rakyat merasa tidak dilibatkan. Lalu bagaimana rakyat bisa percaya, jika suara mereka tidak pernah benar-benar didengar?
Momen sulit ini mestinya menjadi refleksi. Wakil rakyat perlu sadar bahwa jabatan mereka adalah amanah, bukan privilege untuk hidup mewah. Setiap ucapan mereka akan dicatat, setiap tindakan akan dinilai. Jangan sampai sejarah mengingat mereka bukan sebagai pejuang rakyat, melainkan sebagai pengkhianat aspirasi.
Dalam situasi duka dan krisis seperti sekarang, kita hanya bisa berharap ada kesadaran kolektif di parlemen. Bahwa gaji besar, fasilitas mewah, dan kekuasaan politik, semuanya berasal dari rakyat. Dan sudah sepantasnya digunakan kembali untuk kepentingan rakyat.
“Ucapan bisa menyembuhkan, ucapan bisa melukai. Pemimpin sejati adalah mereka yang memilih kata-kata yang menenangkan, bukan membakar,” demikian kata seorang ulama. Mari kita belajar dari tragedi ini, agar nyawa Affan yang gugur tidak sia-sia. Mereka adalah pengingat bahwa bangsa ini hanya bisa kuat jika pemimpin dan rakyat berjalan seiring, bukan saling berhadapan.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!