VISI | Pemantik Demo
Oleh Aep S. Abdullah
DI TENGAH situasi ekonomi yang semakin sulit, rakyat Indonesia menghadapi tekanan berlapis. PHK terus terjadi, pendapatan makin susah, sementara harga kebutuhan pokok merangkak naik dari hari ke hari. Pemerintah menambah beban dengan berbagai pungutan dan kenaikan pajak yang terasa langsung di kantong masyarakat. Namun, ironisnya, pada saat rakyat menjerit, sejumlah anggota DPR RI tidak peka bahkan justru mempertontonkan sikap seolah mengejek. Beberapa diantara mereka melontarkan pernyataan-pernyataan yang dianggap tidak bijak, bahkan menyakiti hati publik.
Nama-nama seperti Adies Kadir, Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, hingga Nafa Urbach mencuat karena komentar mereka yang menyinggung masyarakat di momen genting ini. Alih-alih memberikan empati, kata-kata mereka justru terdengar bagai pemantik api di tengah tumpukan jerami kering. Rakyat banyak yang sudah frustrasi, kian tersulut emosinya.
Padahal, kalau kita cermati demo dengan massa beringas ini tidak membawa narasi yang jelas. Agenda demo pada 28 Agustus 2025 itu Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) bersama Koalisi Serikat Pekerja dan Partai Buruh bertajuk “Gerakan Buruh Indonesia Bergerak: Wujudkan Kedaulatan Rakyat, Hapus Penindasan dan Penghisapan”.
Agenda perjuangan buruh ini meliputi penghapusan sistem outsourcing dan penolakan upah murah, pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan PHK, serta reformasi pajak perburuhan yang adil termasuk penghapusan pajak pesangon, THR, dan JHT. Selain itu, buruh menuntut pengesahan RUU Ketenagakerjaan tanpa skema omnibus law, RUU Perampasan Aset untuk pemberantasan korupsi, revisi UU Pemilu agar lebih aspiratif, serta pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT). Mereka juga mendorong penegakan standar K3 di pertambangan, sistem pengupahan adil di perkebunan sawit, dan ratifikasi Konvensi ILO-190 untuk menghapus kekerasan serta pelecehan di dunia kerja.
Namun, setelah aksi demo buruh di depan Gedung DPR itu, datang kelompok massa mahasiswa dan ojeg online yang terus mengalir dengan narasi bubarkan DPR.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!