VISI | Pemantik Demo
Kenyataan ini membuat rakyat kehilangan rasa percaya. Dan ketika ketidakpercayaan bertemu dengan beban hidup yang berat, protes menjadi jalan yang dipilih. Aksi demonstrasi di beberapa kota membuktikan hal itu. Namun tragis, akibat ucapan yang dianggap memprovokasi, demonstrasi berubah ricuh. Seorang anak bangsa yang menjadi tulang punggung keluarga harus kehilangan nyawa: Affan Kurniawan (21), seorang driver ojek online (Ojol). Selain korban tewas tentu banyak lagi yang mengalami luka-luka baik dipihak pendemo maupun petugas.
Belum lagi kerugian materil. Di Bandung sebuah rumah bersejarah eks rumah dinas Wakil Gubernur Jabar ludes dibakar pendemo. Di Makasar, gedung DPRD-nya juga ludes dilalap api. Begitu juga di beberapa daerah lainnya. Kehilangan tersebut adalah kehilangan kita bersama.
Apalagi jika menengok ke akar masalah, tragedi itu sebenarnya berawal dari komunikasi politik yang buruk. Wakil rakyat yang seharusnya meredam, justru menambah bara. Dalam situasi rakyat yang lapar dan kecewa, ucapan tidak bijak sama artinya dengan menyulut korek api di ruang penuh gas.
Kita tidak menolak perbedaan pendapat. Demokrasi memang hidup dari perdebatan. Tapi yang dibutuhkan rakyat dari anggota DPR bukan sekadar kata-kata, melainkan solusi nyata. Bagaimana cara harga BBM bisa sama dengan bangsa serumpun Malaysia agar harga-harga lainnya bisa terkendali. Bagaimana mereka menggunakan hal inisiatifnya untuk membuat tata kelola BUMN-BUMN kita bisa untung sehingga bisa menjadi penopang APBN, bagaimana indek persepsi korupsi (IPK) kita bisa rendah, sektor ril kita agar lebih bergairah, dan kewenangan lainnya. Inilah yang mestinya menjadi fokus, bukan komentar yang seolah meremehkan penderitaan rakyat.
Data Bank Dunia menunjukkan, lebih dari 40% penduduk Indonesia masih rentan jatuh miskin jika ada guncangan ekonomi. Itu artinya, ucapan-ucapan yang merendahkan rakyat sama saja menambah luka mereka. Ketika pemimpin bicara tanpa empati, rakyat akan merasa ditinggalkan.
Kritik terhadap DPR bukan berarti benci pada lembaganya. Justru sebaliknya, kritik lahir karena kita ingin lembaga legislatif ini benar-benar menjalankan fungsinya: legislasi, anggaran, dan pengawasan. Jika semua fungsi itu dijalankan dengan sungguh-sungguh, kesejahteraan rakyat akan ikut naik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!