VISI | Pemantik Demo
Aksi ini tidak jelas siapa pemimpin atau koordinatornya. Begitu juga agenda yang mereka perjuangkan. Mereka lebih terpicu oleh narasi sejumlah anggota dewan yang memancing emosi publik.
Pernyataan tak bijak ini tidak berdiri sendiri, melainkan bersandar pada realitas pahit: kesenjangan kesejahteraan antara wakil rakyat dan rakyat yang diwakilinya begitu menganga. Data menjadi buktinya. Seorang anggota DPR RI menerima gaji pokok dan tunjangan hingga Rp 80 juta – Rp 120 juta per bulan, belum termasuk fasilitas mobil, rumah dinas, hingga perjalanan luar negeri. Bandingkan dengan upah minimum regional (UMR) Jakarta yang pada 2025 hanya sekitar Rp 5,2 juta. Rasio gaji DPR dengan UMR mencapai lebih 20 kali lipat.
Bandingkan dengan Malaysia. Anggota Parlemen di sana bergaji sekitar RM 16.000 atau setara Rp 55 juta per bulan, sementara UMR Kuala Lumpur berada di kisaran RM 1.500 (Rp 5,2 juta). Rasio-nya hanya sekitar 10 kali lipat. Di Australia, anggota parlemen digaji AUD 200 ribu per tahun atau Rp 220 juta per bulan, tapi upah minimum per bulan juga cukup tinggi, sekitar AUD 3.500 (Rp 38 juta). Rasio-nya hanya 5-6 kali lipat. Di Amerika Serikat, gaji anggota Kongres sebesar USD 14.500 per bulan (Rp 220 juta), dengan minimum wage federal sekitar USD 1.260 (Rp 19 juta). Rasio-nya sekitar 11 kali lipat.
Artinya, kesenjangan di Indonesia jauh lebih parah. Rakyat diminta berhemat, sementara wakilnya hidup dalam kemewahan. Ketidakadilan struktural, di tengah pertarungan kepentingan elit bangsa yang belum stabil pasca pilpres, membuat ucapan para anggota DPR terasa makin menusuk.
Di daerah pemilihan, banyak masyarakat mengeluh bahwa wakil mereka jarang turun langsung mendengarkan aspirasi. Saat masa kampanye, janji ditebar; setelah terpilih, yang tampak justru sibuk menghadiri rapat-rapat seremonial atau berpose di media sosial. Kinerja legislatif yang benar-benar berpihak pada rakyat, mulai dari penurunan harga kebutuhan pokok, perbaikan kesehatan dan pendidikan, hingga pengawasan pada kebijakan pemerintah, masih jauh panggang dari api.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!