VISI | Parade Adab
Di mata rakyat, perilaku mereka seperti panggung sandiwara besar: penuh omon-omon tanpa substansi. Akibatnya, kepercayaan publik runtuh. Generasi muda yang semestinya belajar dari teladan pemimpin malah menyaksikan parade keburukan yang dipoles dengan pencitraan.
Salah satu hal paling menyedihkan dari parade adab ini adalah hilangnya ruang bagi generasi muda. Banyak pemimpin tua enggan memberi kesempatan pada anak-anak bangsa yang lebih cerdas, lebih berintegritas, dan lebih berakhlak. Jabatan publik dan ruang kepemimpinan masih didominasi wajah-wajah lama, meski rekam jejak mereka penuh noda.
Padahal menurut Nurcholish Madjid, generasi muda adalah motor peradaban. Ia pernah berpesan bahwa pembaruan dalam masyarakat hanya akan terjadi jika kaum muda diberi ruang untuk berkreasi dan memimpin. Namun hari ini, justru mereka yang memiliki potensi sering terpinggirkan oleh praktik politik transaksional.
Di tengah parade keburukan ini, masih ada harapan. Harapan itu ada di ruang kelas, di sekolah, di kampus, tempat para guru dan dosen dengan sabar menyalakan pelita. Merekalah benteng terakhir yang menjaga adab tetap hidup.
Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dunia, mengatakan: “Pendidikan bukanlah sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah tindakan pembebasan.” Guru yang beradab bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menghidupkan nilai moral, empati, dan keberanian pada peserta didiknya.
Namun, bagaimana benteng itu bisa kokoh bila fondasinya rapuh? Korupsi anggaran pendidikan, kebijakan yang tidak berpihak pada guru, serta narasi “guru beban negara” justru semakin meruntuhkan moral anak bangsa. Maka, memperbaiki adab pemimpin adalah syarat mutlak agar pendidikan bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Indonesia tak kekurangan orang pintar. Yang kita kekurangan adalah orang pintar yang beradab. Parade adab yang memalukan ini harus dihentikan dengan beberapa langkah nyata: Pertama, pendidikan karakter yang serius – Kurikulum harus menekankan pembentukan adab, bukan sekadar hafalan akademik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!