VISI | Parade Adab
Oleh Drajat
DUH, negeri yang ku sayangi ini entah sampai kapan terus mempertontonkan pemandangan ironis dari perilaku tidak beradab. Layar televisi, media sosial, hingga ruang publik kita dipenuhi tontonan para elite yang seolah berlomba menampilkan parade keburukan moral. Padahal mereka bukan anak-anak muda yang masih mencari jati diri, melainkan pejabat berpendidikan tinggi, tokoh publik yang mestinya mencontohkan keluhuran budi, bahkan orang tua yang seharusnya menjadi teladan.
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita, sejak awal menegaskan: “Adab itu lebih tinggi daripada ilmu.” Kalimat sederhana ini kini terasa relevan sekaligus menyakitkan. Sebab yang kita saksikan hari ini justru sebaliknya: banyak orang berilmu tinggi, bergelar panjang, tetapi miskin adab.
Baru-baru ini publik dikejutkan oleh ditangkapnya mantan Menteri Pendidikan oleh KPK terkait dugaan korupsi pengadaan Chromebook. Ironis, kementerian yang menjadi benteng moral bangsa justru dipimpin oleh sosok yang tersandung kasus suap.
Dan ini bukan cerita baru. Laporan Indonesia Corruption Watch (ICW, 2023) mencatat sektor pendidikan termasuk salah satu bidang dengan kasus korupsi tertinggi, dengan kerugian negara mencapai ratusan miliar rupiah setiap tahunnya. Dari korupsi dana BOS, mark-up pengadaan buku, hingga penyalahgunaan dana bantuan sekolah, semuanya menunjukkan satu hal: hilangnya adab pejabat dalam mengelola amanah pendidikan.
Di panggung politik, para anggota dewan yang semestinya disebut “wakil rakyat” malah sering melukai rakyat dengan ucapan kasar. Belakangan viral anggota dewan menyebut masyarakat dengan istilah “tolol” dan “jelata.” Lebih menyakitkan lagi, sebagian dari mereka tampil berjoget ria di sidang terhormat, seolah-olah lupa bahwa rakyat sedang menderita.
Tragisnya parade adab ini dipertontonkan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi teladan: pemimpin pusat, kepala daerah, bahkan tokoh masyarakat. Mereka gagah berpidato tentang moralitas, tentang Pancasila, tentang “nilai-nilai luhur bangsa.” Namun di balik kata-kata manis itu, banyak di antara mereka justru tersandung kasus suap, gratifikasi, atau skandal moral.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!