VISI | Nyinyir!
Oleh Drajat
DALAM kehidupan sehari-hari, kita tidak asing dengan ungkapan, "Orang lain bisa berkata apa saja, yang penting kita tetap di jalur yang benar." Namun, kenyataannya tidak selalu semudah itu. Ketika seseorang mencoba berbuat baik, memperbaiki lingkungan, menginisiasi gerakan sosial, atau sekadar membiasakan sikap positif, respon yang didapat tidak selalu sambutan hangat. Justru, cibiran, komentar sarkastik, dan sinisme kerap muncul. Dalam bahasa populer sekarang: nyinyir.
Kata "nyinyir" menjadi semacam virus sosial. Ia bukan sekadar kritik yang membangun, melainkan komentar tajam, merendahkan, penuh prasangka, dan kerap datang dari mereka yang tidak melakukan apa pun. Parahnya, nyinyiran sering kali disampaikan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, punya jabatan, bahkan publik figur. Nyinyir menjadi "gaya berbicara" yang dipakai untuk membungkam atau mengecilkan niat baik orang lain.
Nyinyir bukan sekadar kata. Ia telah menjadi gejala sosial. Mudah kita jumpai di media sosial, dalam forum diskusi, bahkan di ruang-ruang pendidikan. Orang melakukan sesuatu yang positif, akan selalu ada yang berkata:
"Sok bijak!"
"Pencitraan saja itu!"
"Ah, biar dilihat atasan!"
"Kalau benar, kenapa baru sekarang?"
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!